Wayang Keyong: Cerita Kecil dari Kardus Bekas dan Tentang Ekosistem Sawah yang Terlupakan

Gambar ilustrasi Kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Tak semua karya seni lahir dari ruang galeri atau meja akademik. Sebagian justru tumbuh dari jalur yang tak pernah masuk brosur kebudayaan: jalan sempit yang tiap hari dilewati truk pengangkut sampah menuju TPA Putri Cempo, Mojosongo, Solo. Dari lalu lintas sampah itulah Wayang Keyong bermula.

Awalnya bukan wayang. Hanya topeng dari kertas semen, lalu bubur kertas, dan akhirnya kardus bekas. Bahan-bahan yang biasanya dianggap selesai masa gunanya, disulap menjadi medium cerita. Dari proses itu lahir Wayang Keyong—bukan sebagai artefak nostalgia, melainkan sebagai alat belajar yang hidup, terutama bagi anak-anak.

Di balik karya ini ada sosok Mbah Janthit, pencipta Wayang Keyong sekaligus dalang Wayang Keyong. Ia adalah seniman yang lahir dari perenungan panjang atas simbol-simbol alam dan kehidupan sehari-hari. Rumah dan ruang hidupnya bersinggungan langsung dengan realitas sampah, sawah, dan perubahan lingkungan—hal-hal yang kemudian membentuk arah estetik sekaligus etik dari karyanya.

Wayang Keyong sendiri lahir dari permenungan Mbah Janthit terhadap filosofi keyong. Dalam kisah-kisah tradisional, keyong digambarkan mampu mengalahkan kancil—tokoh hewan yang licik—bukan melalui tipu daya, melainkan dengan ketulusan dan kesabaran.
Dari situ, keyong dimaknai sebagai simbol kecerdasan alamiah, kerendahan hati, dan kebijaksanaan yang bekerja tanpa banyak suara.

Bagi Mbah Janthit, keyong bukan sekadar tokoh cerita, melainkan medium batin. Ia menyebut Wayang Keyong sebagai “Wahyange Sang Yang”—wahyu yang lahir dari keheningan jiwa untuk berbicara dengan semesta. Sebuah cara menyalurkan ekspresi batin sekaligus menyampaikan pesan kehidupan dan lingkungan melalui simbol yang sederhana, namun sarat makna.

“Karena keyong mampu mengalahkan kancil, dari inspirasi itu saya merenungkan untuk menulis. Keyong tadi mempunyai sesuatu untuk mengekspresikan jiwa saya untuk berbicara dengan semesta dan lahirlah wayang keyong,” ujar Mbah Janthit dalam Obrolan Komunitas Pro 1 RRI Surakarta, Senin (10/11/2025).

Wayang ini sederhana. Bentuknya tidak rumit, warnanya tidak mencolok, dan ceritanya tidak berlapis-lapis simbol berat. Namun justru di situlah kekuatannya. Wayang Keyong tidak memaksa anak-anak menghafal nilai, melainkan mengajak mereka masuk ke cerita: tentang sawah, tentang hewan-hewan kecil yang sering diabaikan, tentang keseimbangan yang bekerja dalam sunyi agar pangan tetap ada di meja.

Di wilayah Solo dan sekitarnya, Wayang Keyong dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian wayang rakyat yang berkembang bersama kehidupan pedesaan. Tema-temanya dekat dengan keseharian: alam, lingkungan, dan relasi manusia dengan sawah. Pesan lingkungan hadir dengan kuat. Tidak ada ceramah panjang tentang krisis iklim. Yang ada hanyalah kisah tentang keyong, burung, serangga, dan manusia yang seharusnya belajar hidup berdampingan.

Wayang Keyong juga tidak asing dengan satir. Dalam beberapa pertunjukan, ia memuat kritik sosial yang dibungkus humor. Cara bertani yang serampangan, sikap manusia yang merasa paling berkuasa atas alam, hingga jarak generasi muda dengan lingkungan hidupnya, kerap hadir sebagai sindiran halus—cukup untuk membuat penonton tersenyum, sekaligus berpikir.

Kesenian ini kerap dikaitkan dengan memedi sawah—orang-orangan sawah yang berdiri diam di tengah hamparan padi, dan akan bergerak liar ketika ditiup angin. Dalam tafsir budaya lisan Jawa, memedi sawah bukan sekadar alat pengusir burung, melainkan simbol penjaga. Penjaga dari hama tanaman, sekaligus dari gangguan sosial yang muncul ketika manusia kehilangan kesadaran ekologisnya.

Dalam pementasan, instrumen Wayang Keyong bersifat lentur. Kadang diiringi gamelan lengkap layaknya pagelaran tradisional, namun di ruang lain cukup dengan instrumen sederhana seperti kentrung. Fleksibilitas ini membuat Wayang Keyong mudah berpindah ruang—dari pendapa, sekolah, hingga halaman kampung—tanpa kehilangan ruh pertunjukannya.

Menariknya, Wayang Keyong tidak lahir dari program pendidikan atau kurikulum negara. Ia tumbuh dari inisiatif warga, dari kegelisahan yang sederhana: melihat sampah menumpuk dan anak-anak makin jauh dari alam sekitarnya. Dalam konteks ini, Wayang Keyong diam-diam mengajukan kritik—bahwa pendidikan budaya dan lingkungan sering kali terlalu formal, terlalu jauh dari denyut kehidupan sehari-hari.

Ketika Wayang Keyong mulai masuk ke sekolah-sekolah—TK hingga SMA—melalui workshop dan dongeng fabel, pendekatan yang ditawarkan terasa berbeda. Anak-anak tidak hanya menonton, tetapi membuat, memegang, dan memainkan wayang mereka sendiri. Seluruh properti pementasan, dari wayang hingga kelir, berasal dari barang-barang daur ulang—kardus bekas dan material sampah yang diberi kehidupan baru.

Wayang Keyong pernah tampil di TVRI Jawa Tengah, difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan Boyolali. Sebuah pengakuan yang penting. Namun nilai utamanya bukan pada layar televisi, melainkan pada prosesnya: bagaimana seni bisa menjadi jembatan antara lingkungan, budaya, dan pendidikan tanpa harus kehilangan kesederhanaannya.

Di tengah situasi pangan yang kian rapuh, sawah yang menyusut, dan anak-anak yang makin asing dengan sumber makanannya sendiri, Wayang Keyong hadir tanpa pretensi menyelamatkan dunia. Ia hanya mengingatkan, pelan-pelan, bahwa menjaga ekosistem tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang cukup dari simbol keyong, kardus bekas, cerita fabel, dan tangan kecil yang belajar membuat wayang.

Sawah sehat, pangan kuat—bukan sebagai jargon semata, melainkan sebagai kesadaran yang tumbuh perlahan. Dan mungkin dari Wayang Keyong kita belajar satu hal penting: kebudayaan yang bertahan bukan yang paling megah, tetapi yang lahir dari keheningan, mendengar alam, dan setia pada denyut hidup di sekitarnya.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id