Ketika Suara Menjadi Ancaman bagi Kekuasaan

Gambar ilustrasi Bob Marley

“Belajar dari Bob Marley tentang mengapa musik, kata, dan keberanian selalu dicurigai oleh kuasa.”

KOPIPAHIT.ID – Dalam sejarah, kekuasaan jarang benar-benar takut pada senjata. Yang paling ditakuti penguasa justru adalah suara—suara yang mampu menyatukan, menyadarkan, dan menggerakkan. Bob Marley adalah bukti nyata betapa sebuah suara bisa dianggap lebih berbahaya daripada ribuan pasukan bersenjata.

Pada 3 Desember 1976, rumah Bob Marley di Hope Road, Kingston, diserbu tujuh pria bersenjata. Ia ditembak di dada dan lengan. Istrinya, Rita Marley, terkena peluru di kepala. Manajernya, Don Taylor, nyaris tewas setelah dihujani tembakan. Peristiwa ini bukan kriminal biasa, melainkan bagian dari pusaran konflik politik Jamaika yang kala itu terbelah tajam antara Partai Nasional Rakyat (PNP) dan Partai Buruh Jamaika (JLP).

Bob Marley menjadi sasaran karena ia menolak tunduk pada logika politik kekuasaan. Di tengah polarisasi yang brutal, ia memilih berdiri di luar kubu, menyuarakan persatuan kaum miskin dan tertindas. Sikap ini justru menjadikannya ancaman bagi semua pihak. Musiknya dianggap mampu menggugah kesadaran kolektif rakyat—sesuatu yang selalu membuat elite gelisah.

Yang membuat kisah ini layak direnungkan bukan hanya upaya pembunuhannya, tetapi keputusan Marley setelahnya. Dua hari pasca-penyerangan, dengan tubuh belum pulih dan peluru masih bersarang, ia tetap naik ke panggung konser Smile Jamaica di hadapan puluhan ribu orang. Ketika ditanya mengapa ia tidak beristirahat, Marley menjawab singkat: orang-orang yang ingin menghancurkan dunia tidak pernah libur.

Jawaban itu menegaskan satu hal penting: bagi Marley, musik bukan sekadar hiburan, melainkan tanggung jawab moral.

Keberanian itu lahir dari pengalaman hidup yang panjang. Marley tumbuh sebagai anak yang ditolak—hasil pernikahan lintas ras yang tak diakui ayahnya, Kapten Norval Marley, seorang perwira Inggris. Di kampung halamannya, Nine Mile, ia dicap “Yellow Boy”, tidak sepenuhnya diterima oleh komunitas kulit hitam dan sepenuhnya ditolak dunia kulit putih. Pengalaman ini menanamkan kesadaran awal tentang ketidakadilan struktural.

Kemiskinan Trench Town, tempat ia tumbuh sebagai remaja, semakin menajamkan pandangannya. Di sana, Marley belajar bahwa kelaparan bukan sekadar urusan perut, melainkan akibat dari sistem sosial yang timpang. Reggae yang ia mainkan bersama The Wailers lahir bukan dari romantisme budaya, melainkan dari realitas hidup kaum pinggiran.

Ketika Marley sempat bekerja sebagai buruh pabrik di Amerika Serikat pada 1966, pengalaman kelas pekerja internasional semakin menguatkan keyakinannya: penindasan adalah persoalan global. Karena itu, saat ia kembali ke Jamaika, musiknya tak lagi netral. Lagu-lagunya menjadi medium kritik sosial, spiritualitas, dan seruan perlawanan yang konsisten.

Album Exodus yang lahir selama masa pengasingannya di London adalah bukti paling jelas. Album itu bukan hanya karya musik, melainkan pernyataan politik dan spiritual bahwa pengasingan, ancaman, dan kekerasan tidak akan mematahkan suara perlawanan.

Puncak simboliknya terjadi pada One Love Peace Concert 1978, ketika Marley menarik tangan dua tokoh politik yang saling bermusuhan—Michael Manley dan Edward Seaga—untuk berjabat tangan di atas panggung. Di hadapan puluhan ribu orang, ia menunjukkan bahwa rekonsiliasi bisa dipaksa oleh moral, bukan oleh senjata.

Bob Marley wafat pada 11 Mei 1981 akibat kanker melanoma, di usia 36 tahun. Tubuhnya kalah oleh penyakit, tetapi pesannya justru melampaui zaman.

Dalam konteks dunia hari ini, kisah Bob Marley terasa semakin relevan. Ketika kritik sering dipersempit sebagai ancaman, ketika perbedaan pendapat dianggap gangguan stabilitas, dan ketika suara-suara dari pinggiran lebih mudah dicurigai daripada didengar, sejarah mengingatkan kita pada satu pola lama: kekuasaan selalu lebih gelisah menghadapi kesadaran kolektif daripada kekerasan terbuka. Pembungkaman jarang dimulai dengan senjata; ia hampir selalu diawali dengan delegitimasi suara.

Bob Marley telah membuktikan bahwa musik bisa menjadi bahasa politik paling efektif—bukan karena ia memerintah, tetapi karena ia menyentuh kesadaran. Penguasa boleh menggenggam senjata, tetapi sejarah berulang kali menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari satu suara yang berani jujur.

Pertanyaannya bukan lagi apakah suara itu berbahaya.
Sejarah sudah menjawabnya.
Pertanyaannya adalah: mengapa kekuasaan selalu takut pada suara yang jujur?

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id