Mengembalikan Budaya Bercocok Tanam dari Rumah

“Di tengah ketergantungan rumah tangga pada pasar dan naik-turunnya harga pangan, pekarangan rumah justru makin jarang dimanfaatkan. Padahal, dari ruang kecil inilah ketahanan pangan keluarga pernah tumbuh secara sederhana dan mandiri.”

KOPIPAHIT.ID – Di tengah harga pangan yang kian sulit diprediksi dan ketergantungan rumah tangga pada pasar yang semakin dalam, ada satu ruang yang justru kerap dilupakan: pekarangan rumah. Padahal, di situlah dulu keluarga-keluarga menjaga keberlanjutan hidupnya secara sederhana—menanam, memetik, dan mengonsumsi seperlunya.

Hari ini, pemandangan itu semakin jarang dijumpai. Pekarangan yang dulu ditanami cabai, kangkung, atau sekadar beberapa batang serai, kini lebih sering kosong. Bukan karena lahannya benar-benar hilang, melainkan karena kebiasaan bercocok tanam di rumah perlahan ditinggalkan. Rumah berubah fungsi menjadi ruang tinggal semata, bukan lagi ruang produksi pangan.

Tanpa istilah kebijakan yang rumit, generasi sebelumnya sebenarnya telah mempraktikkan ketahanan pangan keluarga. Pekarangan dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Jika ingin memasak, tinggal memetik. Jika butuh sayur atau bumbu, tidak selalu harus ke pasar. Pola ini membuat keluarga tidak sepenuhnya bergantung pada uang tunai dan fluktuasi harga.

Perubahan gaya hidup kemudian menggeser kebiasaan itu. Pasar, warung, hingga aplikasi belanja menjadi rujukan utama pemenuhan pangan. Praktis, cepat, dan dianggap efisien. Namun di balik kemudahan itu, rumah tangga secara perlahan kehilangan kemampuan memproduksi pangannya sendiri. Ketergantungan pada sistem distribusi semakin kuat, sementara daya tahan keluarga terhadap gangguan pasokan justru melemah.

Dalam konteks inilah program ketahanan pangan keluarga seharusnya dibaca. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang produksi skala besar atau cadangan nasional, tetapi juga tentang sejauh mana rumah tangga mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya secara mandiri. Pekarangan, sekecil apa pun, menyimpan potensi itu.

Pemanfaatan pekarangan berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi keluarga. Sayuran dan bumbu yang ditanam sendiri biasanya dikonsumsi lebih segar dan sesuai kebutuhan harian. Tidak berlebihan, tidak pula bergantung pada ketersediaan pasar. Dalam skala kecil, praktik ini membantu keluarga menjaga variasi pangan, terutama sayur dan sumber nutrisi dasar.

Dari sisi ekonomi rumah tangga, dampaknya juga terasa. Pengeluaran rutin untuk sayur dan bumbu dapat ditekan. Mungkin tidak besar dalam hitungan harian, tetapi signifikan jika dilihat dalam jangka panjang. Bagi keluarga dengan pendapatan terbatas, penghematan semacam ini menjadi penyangga yang nyata, bukan sekadar wacana.

Pendekatan pertanian terpadu di pekarangan membuka kemungkinan yang lebih luas. Tanaman sayur, ternak kecil, atau kolam ikan dapat dikelola bersama dengan pengolahan limbah organik rumah tangga. Sisa dapur diolah menjadi pupuk, pupuk menyuburkan tanaman, dan hasilnya kembali ke meja makan. Ini bukan konsep baru, melainkan pengetahuan lama yang perlahan ditinggalkan seiring perubahan cara hidup.

Lebih dari soal pangan dan pengeluaran, kebiasaan bercocok tanam di rumah membentuk cara keluarga memandang makanan. Anak-anak belajar bahwa makanan tidak hadir begitu saja, melainkan melalui proses yang membutuhkan perawatan dan waktu. Pemahaman semacam ini penting, terutama ketika pangan semakin diposisikan sekadar sebagai komoditas.

Menghidupkan kembali budaya bercocok tanam dari rumah tidak cukup dengan program seremonial atau pembagian bibit sesaat. Yang lebih mendasar adalah mengembalikan kesadaran bahwa pekarangan memiliki fungsi. Rumah bukan hanya tempat menghabiskan hasil kerja, tetapi juga ruang untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidup secara mandiri.

Jika ketahanan pangan ingin dibangun dari bawah, rumah adalah titik awal yang paling masuk akal. Dari pekarangan yang kembali ditanami, keluarga perlahan mengurangi ketergantungan, menjaga gizi, dan menata ulang hubungan mereka dengan pangan—hubungan yang selama ini kian menjauh, tanpa disadari.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id