
KOPIPAHIT.ID – Di banyak rumah, pekarangan hanya menjadi sisa. Tempat jemuran, parkiran motor, atau sekadar ruang kosong yang dibiarkan kering. Tapi di Jatipuro, pekarangan mulai dibaca ulang—bukan sebagai sisa, melainkan sebagai awal.
Pelatihan petani milenial yang digelar di kecamatan kecil di kaki perbukitan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia hadir sebagai pengingat bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari lahan luas, proyek besar, atau anggaran jumbo.
Kadang ia tumbuh diam-diam, dari tanah sempit di belakang rumah, dari tangan-tangan muda yang memilih kembali ke tanah dan membangun denyut nadi kehidupan desa.
Di ruang pelatihan itu, para petani muda belajar hal-hal yang selama ini nyaris dilupakan: mengenali karakter tanah, meramu pestisida hayati, memulihkan kesuburan dengan pupuk organik, dan—yang paling penting—mengubah cara pandang terhadap rumah.
Rumah tidak lagi dilihat hanya sebagai ruang konsumsi, melainkan sebagai ruang produksi pangan keluarga.
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karanganyar, Feriana Dwi Kurniawati, menyebut pekarangan sebagai kunci keberlanjutan gizi keluarga. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya politis: ia menantang ketergantungan panjang pada pasar, pupuk kimia, dan pangan instan.
Ia juga mengajak anak muda untuk tidak alergi pada kata “bertani”, sebab masa depan pertanian justru menuntut inovasi dan keberanian generasi baru.
Di lapangan, penyuluh pertanian dan Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Jatipuro mengambil peran penting. Bagi Mulyono, Kepala BPP Kecamatan Jatipuro, bertani bukan sekadar menanam, tetapi memahami. Tanah harus dibaca, dirawat, dan dipulihkan. Tanpa itu, pertanian hanya akan menjadi rutinitas yang rapuh.
Dari sisi gerakan, Serikat Tani Bumi Intanpari (SERTA BUMI) membaca pelatihan ini sebagai bagian dari upaya yang lebih panjang: mengembalikan budaya bercocok tanam dari rumah. Yoseph Heriyanto menegaskan bahwa pekarangan bisa menjadi sistem yang hidup—sayuran di tanah pekarangan, ternak ayam kampung di sudut halaman, ikan di kolam kecil.
Sederhana, tapi cukup untuk membangun kemandirian. Dalam konteks krisis pangan dan mahalnya biaya hidup, gagasan ini terasa relevan, bahkan mendesak.
Yang menarik, gerakan ini tidak berhenti pada orang dewasa.
Rumah Bibit dan Kebun Siswa yang akan dibangun di SD 01 Ma’arif NU Jatipuro menandai pergeseran penting: pertanian tidak lagi sekadar urusan petani, tetapi juga urusan pendidikan.
Anak-anak diajak mengenal tanah, tanaman, dan pangan sehat sejak dini—sebuah pembelajaran ekologi yang nyaris absen di ruang kelas formal.
Dukungan dari pemerintah desa, penyuluh, hingga jejaring organisasi seperti Forum Membangun Desa (Formades) menunjukkan bahwa inisiatif ini tidak berjalan sendiri. Ia tumbuh sebagai kerja kolektif, perlahan, namun bisa membangun harapan dimasa depan.
Di tengah gempuran wacana industrialisasi pertanian dan proyek-proyek pangan skala besar, apa yang dilakukan petani muda Jatipuro mungkin tampak kecil. Tapi justru dari yang kecil inilah daya tahan dibangun.
Dari pekarangan, dari rumah, dari kesadaran bahwa pangan adalah urusan sehari-hari—bukan sekadar angka produksi. Petani Pemuda Maju Jaya Jatipuro sedang menyemai sesuatu. Bukan hanya bibit tanaman, tetapi juga cara berpikir: bahwa masa depan bisa ditanam hari ini, sejengkal demi sejengkal, dari halaman rumah sendiri.
Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
