
“Sampah telah menjelma menjadi krisis nasional, terutama di kota-kota yang kian sesak oleh konsumsi dan produksi tanpa henti. Di tengah situasi yang disebut banyak pihak sebagai Indonesia darurat sampah, mungkin jawaban tidak selalu harus datang dari kebijakan besar—ia bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana: pekarangan rumah kita sendiri.”
KOPIPAHIT.ID – Sampah hari ini bukan lagi persoalan sepele yang bisa dianggap urusan teknis belaka. Ia telah menjadi isu nasional, terutama di wilayah perkotaan yang padat penduduk dan tinggi tingkat konsumsinya. Kota-kota besar menghadapi tekanan luar biasa akibat volume sampah yang terus meningkat setiap hari, sementara kapasitas pengelolaan dan tempat pembuangan akhir semakin terbatas.
Berbagai peristiwa penutupan TPA, konflik sosial, hingga pencemaran lingkungan menjadi penanda bahwa persoalan ini sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Tidak berlebihan jika banyak pihak menyebut kondisi ini sebagai Indonesia Darurat Sampah—sebuah situasi ketika produksi sampah melampaui kemampuan kita untuk mengelolanya secara bijak dan berkelanjutan.

Di tengah kondisi itu, ada satu kebiasaan yang pelan-pelan membentuk cara berpikir kita: setiap kali melihat tumpukan sampah, kita spontan bertanya, “Ini tanggung jawab siapa?” Jarang sekali kita bertanya, “Ini berasal dari siapa?” Padahal jawabannya sederhana. Sampah itu milik kita. Kita yang memproduksinya. Kita yang membawanya pulang. Kita yang membuangnya.
Tetapi entah sejak kapan, kita merasa urusan selesai ketika kantong plastik itu sudah diangkut ke luar rumah. Masalahnya tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah alamat.
Gunungan sampah di tempat pembuangan akhir adalah cermin dari dapur-dapur kita. Bau menyengat, air lindi, gas metana, dan berbagai persoalan sosial di sekitarnya bukanlah persoalan orang lain. Itu adalah akumulasi dari kebiasaan kolektif kita yang ingin hidup praktis tanpa mau menanggung konsekuensi.
Kita memindahkan tanggung jawab, bukan menyelesaikan persoalan. Karena itu, perubahan seharusnya dimulai dari hulu. Dari rumah. Dari pekarangan.
Dulu, pekarangan bukan sekadar sisa lahan. Ia adalah ruang hidup. Tempat menanam cabai, kangkung, dan singkong. Tempat ayam dilepas setiap pagi. Tempat anak-anak belajar tentang tanah, tentang musim, tentang siklus kehidupan.
Kini pekarangan lebih sering menjadi tempat parkir, gudang barang tak terpakai, atau sekadar ruang kosong yang dibiarkan keras dan kering. Kita mengganti kemandirian dengan ketergantungan penuh pada pasar. Semua dibeli. Semua diambil dari luar. Sementara lahan di belakang rumah kita sendiri tak lagi berfungsi.
Di saat yang sama, krisis datang bersamaan. Harga pangan naik. Stunting belum selesai. Sampah menumpuk. Pengeluaran rumah tangga membengkak. Lingkungan kian tercemar. Masalah-masalah itu tampak besar, kompleks, dan seolah hanya bisa diselesaikan oleh kebijakan tingkat tinggi. Padahal sebagian jawabannya bisa dimulai dari halaman rumah sendiri.
Gagasan Sistem Pekarangan Terpadu lahir dari kesadaran sederhana itu. Mengembalikan budaya bercocok tanam berbasis pekarangan sebagai bagian dari Program Ketahanan Pangan Keluarga sekaligus pendekatan penanggulangan sampah dari hulu. Di dalamnya ada sayur. Ada ternak unggas skala kecil. Ada kolam ikan. Ada komposter. Semua saling terhubung dalam satu siklus yang masuk akal dan berkelanjutan.
Sampah organik dapur tidak lagi dibuang. Ia diolah menjadi kompos. Kompos menyuburkan tanaman. Sisa sayur menjadi pakan unggas. Kotoran unggas difermentasi menjadi pupuk. Air kolam ikan yang kaya nutrisi digunakan untuk menyiram tanaman. Tidak ada yang benar-benar terbuang. Yang ada hanyalah perputaran kembali. Dari konsumsi, kembali ke produksi. Dari dapur, kembali ke tanah dan tanaman.

Bahkan dengan lahan minimal dua puluh hingga dua puluh lima meter persegi, keluarga sudah bisa memulai. Deretan polybag berisi sayur daun, beberapa batang cabai dan tomat, lima sampai sepuluh ekor ayam di kandang sederhana, serta kolam terpal kecil untuk ikan konsumsi. Dalam hitungan minggu, sayur bisa dipanen. Dalam beberapa bulan, ikan siap dikonsumsi. Telur bisa menjadi sumber protein harian.
Pengeluaran belanja dapur berkurang. Ketergantungan sedikit demi sedikit menurun.
Program ini tidak berhenti pada urusan teknis menanam atau memelihara. Ia menyentuh persoalan sosial yang lebih luas. Ia mengubah cara pandang tentang sampah, bahwa sampah adalah tanggung jawab kita bersama karena kitalah yang memproduksinya.
Ia membantu memperbaiki gizi keluarga melalui akses rutin pada sayur, telur, dan ikan. Ia berkontribusi pada pencegahan stunting dengan memastikan ketersediaan protein hewani yang berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. Ia memperkuat ekonomi keluarga dengan mengurangi pengeluaran dan membuka peluang penjualan hasil surplus. Ia juga menjaga kesehatan lingkungan dengan mengurangi pembakaran sampah dan ketergantungan pada pupuk kimia.
Yang paling penting, program ini menumbuhkan kembali kesadaran kolektif bahwa keluarga adalah unit paling dasar dari ketahanan bangsa. Ketika satu rumah mulai memilah sampahnya sendiri, menanam makanannya sendiri, dan memelihara sumber proteinnya sendiri, di situ ada perubahan mentalitas. Kita tidak lagi sepenuhnya bergantung. Kita tidak lagi hanya menjadi konsumen. Kita kembali menjadi produsen, meski dalam skala kecil.
Perubahan besar sering kali dibayangkan lahir dari kebijakan besar. Padahal ia bisa tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dari tangan yang dengan tulus menanam. Dari sisa nasi yang tidak lagi dibuang. Dari air kolam yang menyuburkan tanah. Dari telur yang diambil setiap pagi. Dari percakapan antar tetangga yang saling berbagi bibit dan pengalaman.
Kita terlalu lama membiasakan diri memindahkan masalah. Dari rumah ke tempat pembuangan. Dari dapur ke pasar. Dari keluarga ke negara. Mungkin sudah waktunya berhenti sejenak dan bertanya: apa yang bisa kita selesaikan sendiri? Barangkali jawabannya tidak serumit yang kita bayangkan. Barangkali ia ada di belakang rumah, di tanah yang selama ini kita abaikan.
Dari pekarangan, kita belajar bahwa ketahanan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari ruang kecil yang dirawat dengan ketulusan dan penuh kesadaran. Dari situ, perubahan dimulai. Dan mungkin, justru dari halaman rumah itulah kita sedang menata ulang masa depan bersama.
Ditulis oleh : Heriyosh
Editor : Redaksi Kopipahit.id
