
“Setiap Ramadan, berbuka berubah menjadi semacam wisata kuliner dadakan—ramai, menggoda, dan terasa wajar untuk “tambah satu lagi”. Tanpa disadari, bukan hanya menu yang bertambah, tetapi juga pengeluaran harian yang ikut naik pelan-pelan.”
KOPIPAHIT.ID – Setiap Ramadan, ada satu momen yang selalu terasa seperti adegan film aksi berbiaya rendah: lima belas menit sebelum magrib.
Trotoar berubah jadi pasar dadakan. Motor parkir sembarangan dengan wajah penuh tekad. Orang-orang yang biasanya santai mendadak gesit, seolah-olah kolak pisang adalah komoditas langka yang akan habis dalam hitungan detik.
Padahal, besok masih ada.
Di area komplek ruko Desa Jaten, Bumi Intanpari, Risma datang bersama pasangannya. Di tangannya sudah ada dua kantong plastik berisi es buah dan gorengan.
“Setahun sekali ini. Rasanya kurang kalau cuma beli satu,” ujarnya sambil tersenyum, sebelum akhirnya menambah satu bungkus lagi.
Di hari biasa, hidup kita relatif teratur. Sarapan sederhana. Makan siang di warung langganan. Sore cukup kopi sachet. Total pengeluaran makan mungkin di kisaran Rp50–70 ribu sehari. Masih masuk akal. Masih bisa dikontrol.
Lalu Ramadan datang.
Tiba-tiba meja berbuka tak lagi cukup satu menu. Ada kolak. Ada gorengan. Ada es buah. Ada minuman warna-warni yang entah sejak kapan terasa penting. Belum lauk utama. Belum nasi hangat yang disiapkan “buat jaga-jaga”.
Darwati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di wilayah perkotaan, menuturkan bahwa jika dihitung pelan-pelan, pengeluaran makan keluarganya rata-rata Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari untuk empat orang. Saat Ramadan, angkanya bisa naik menjadi Rp80 ribu, bahkan tembus Rp100 ribu per hari.
Kenaikan 30–60 persen itu terasa kecil kalau dilihat per transaksi. Cuma Rp10 ribu. Cuma Rp20 ribu. Cuma satu bungkus lagi.
Yang “cuma” itu ternyata konsisten.
Dalam 30 hari, selisihnya bisa lebih dari satu juta rupiah. Angka yang sebenarnya sudah cukup untuk beli baju baru menjelang Lebaran—bahkan mungkin lebih dari satu stel.
Menariknya, ini bukan soal boros atau tidak boros. Ini soal suasana. Ramadan menciptakan atmosfer yang berbeda. Lapar membuat mata lebih peka pada warna. Haus membuat minuman terlihat seperti penemuan besar peradaban.

Ramadan hari ini bukan hanya pasar fisik, tapi juga pasar algoritma—story takjil, review dadakan, rekomendasi “wajib coba”.
Di sisi lain, lapak sederhana milik Ayu tampak ramai. Ia mengaku omzetnya bisa naik dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Kalau Ramadan begini, bisa buat nutup kebutuhan beberapa bulan ke depan,” katanya sambil melayani pembeli yang terus berdatangan.
Dan ada juga faktor sosial. Berbuka bukan hanya soal makan. Ia adalah peristiwa. Ada kebersamaan. Ada cerita. Ada rasa ingin merayakan setelah seharian menahan diri. Takjil jadi semacam simbol kecil bahwa hari ini berhasil dilewati.
Di sisi lain, ekonomi kecil bergerak. Pedagang musiman muncul dengan kreativitas tanpa batas. Jalan kampung hidup. Uang berputar cepat. Ada yang menggantungkan penghasilan tahunan pada satu bulan ini. Dari sudut itu, perburuan takjil adalah denyut ekonomi rakyat.
Maka problemnya bukan pada kolaknya. Bukan pada gorengannya. Tapi pada refleks kita yang kadang tak sadar sedang mengejar lebih dari sekadar makanan.
Ada semacam rasa takut ketinggalan. Takut kurang. Takut berbuka terasa biasa saja. Padahal sering kali, setelah azan berkumandang, yang benar-benar kita butuhkan hanya air dan sedikit manis.
Sisanya sering berakhir di meja, atau di kulkas, atau di perut yang mendadak kaget.
Ramadan memang melatih menahan diri. Tapi realitasnya, ia juga memperlihatkan betapa kreatifnya kita dalam mencari alasan untuk memanjakan diri. Kontradiksi kecil yang manusiawi.
Mengejar takjil, pada akhirnya, bukan cuma soal lapar. Ia seperti wisata kecil yang datang setahun sekali—ramai, riuh, dan sering kali lebih meriah dari yang kita rencanakan.
Besok sore, pasar takjil akan ramai lagi. Kita mungkin tetap datang. Tetap membeli. Tetap tergoda.
Yang berbeda mungkin cuma satu hal: kita sedikit lebih sadar, bahwa yang kita kejar bukan semata kolak dan gorengan—melainkan rasa cukup yang sering kali datang belakangan.
Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
