“Ia mungkin telah menutup mata untuk terakhir kalinya di Yogyakarta, tetapi suaranya tak ikut pergi. Dari ruang perawatan yang sunyi hingga barisan aksi yang riuh, nama John Tobing kembali disebut—bukan sekadar sebagai pencipta lagu, melainkan sebagai penyalur api yang selama ini menyala di dada banyak orang.
KOPIPAHIT.ID – Malam di Yogyakarta tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika kabar duka itu datang, udara tetap bergerak pelan, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin segera dilepaskan.
Di salah satu ruang perawatan Rumah Sakit Akademik UGM, Rabu 25 Pebruari 2026, seorang lelaki yang suaranya pernah menggema di ribuan tenggorokan akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Namanya Johnsony Marhasak Lumbantobing. Banyak orang mengenalnya sebagai John Tobing. Sebagian lain mungkin tak pernah tahu wajahnya, tapi hafal betul lirik yang ia ciptakan. Ia pergi dengan tenang. Tapi yang ia tinggalkan bukanlah kesunyian.
Ada lagu yang tak pernah benar-benar selesai dinyanyikan di negeri ini. Lagu itu berjudul Darah Juang.
Ia bukan sekadar komposisi nada. Ia adalah napas panjang dari generasi yang menolak diam.
Ia lahir dari kegelisahan, dari percakapan-percakapan larut malam di kos-kosan mahasiswa, dari diskusi yang tak pernah sepenuhnya aman, dari mimpi tentang negeri yang lebih adil. Lagu itu tumbuh di lorong-lorong kampus, di bawah bayang rezim yang tak ramah pada kritik. Dan sejak itu, ia berjalan sendiri, melampaui penciptanya.
Darah Juang pada hakikatnya bukan lagu tentang kemarahan semata. Ia adalah lagu tentang kesediaan berkorban. Tentang “kami” yang lebih besar daripada “aku”. Tentang keyakinan bahwa perubahan menuntut harga, dan harga itu dibayar dengan tenaga, waktu, bahkan rasa aman.
“Darah” di dalamnya bukan sekadar simbol luka, melainkan metafora keberanian dan cinta pada rakyat yang tertindas. Ia memadukan kritik terhadap ketidakadilan dengan harapan bahwa pengorbanan tidak pernah sia-sia. Itulah sebabnya setiap kali lagu ini dinyanyikan, yang terasa bukan hanya perlawanan, tetapi juga solidaritas.
John tidak menciptakan lagu untuk menjadi terkenal. Ia menciptakan lagu karena ia tidak sanggup melihat ketidakadilan tanpa bersuara. Musik baginya bukan panggung gemerlap. Ia adalah alat. Ia adalah pengeras suara bagi yang tak punya mikrofon.
Banyak orang mengenang reformasi dengan angka dan tanggal. Tapi sebagian mengingatnya lewat nyanyian. Di setiap aksi, ketika barisan mulai letih, ketika gas air mata masih terasa perih, ketika rasa takut mencoba menyelinap, lagu itu dinyanyikan kembali. Pelan-pelan, lalu serempak. Seolah-olah nada mampu menyatukan detak jantung yang berbeda-beda menjadi satu irama keberanian.
John mungkin tak pernah membayangkan lagunya akan menyeberangi dekade. Ia mungkin tak pernah menghitung berapa kali baitnya dilantunkan. Tapi ia pasti tahu satu hal: selama ketidakadilan masih ada, selama rakyat kecil masih harus berjuang untuk didengar, lagu itu akan selalu menemukan jiwa-jiwa baru yang tumbuh dari perjuangan.
Ironisnya, banyak yang hafal liriknya, tapi tak mengenal penciptanya. Begitulah seringnya nasib orang-orang yang bekerja dari balik layar sejarah. Mereka tidak berdiri di podium. Mereka tidak mengejar sorot kamera. Mereka menyalakan api, lalu membiarkannya menyala di tangan orang lain.
Di ruang-ruang diskusi kampus, di peringatan hari buruh, di aksi petani, di demonstrasi mahasiswa, lagu itu tetap hidup. Ia dinyanyikan oleh generasi yang bahkan belum lahir ketika lagu itu pertama kali diciptakan. Ada sesuatu yang melampaui zaman di dalamnya: rasa cinta yang keras kepala pada negeri, dan keyakinan bahwa perubahan bukan barang mewah.
Kepergian John seperti mengingatkan kita bahwa sejarah bukan hanya dibangun oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang memetik gitar, yang menulis lirik di kertas sederhana, yang memilih berdiri di barisan bersama rakyat.
Ia mungkin telah berpulang. Tapi suara yang ia lepaskan puluhan tahun lalu masih bergema. Dan gema itu tidak memerlukan tubuh untuk tetap hidup. Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah karya abadi bukanlah siapa yang menciptakannya, melainkan siapa yang terus menyanyikannya.
Dan di negeri ini, selama masih ada yang berani berdiri, selama masih ada yang menolak tunduk, selama masih ada yang percaya bahwa keadilan layak diperjuangkan — Darah Juang tidak akan pernah benar-benar usai.
John telah selesai dengan hidupnya.
Tapi nyalanya, seperti yang pernah ia titipkan dalam lagu, tetap menyala di dada banyak orang.
Selamat jalan, Bung…!!
Darah Juang akan terus mengisi ruang-ruang rakyat—dalam perlawanan, dalam solidaritas, dalam perjuangan mewujudkan keadilan.
Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
