
KARANGANYAR – Di Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar bagian selatan, ada satu dusun yang pelan-pelan belajar mendefinisikan ulang kata berdaya. Namanya Gunung Lading. Di tempat inilah Kelompok Jamur Kuwoci tumbuh, bukan dari ruang rapat ber-AC atau lokakarya berlabel “pemberdayaan”, tetapi dari tangan-tangan yang sudah lama akrab dengan serbuk kayu dan kepulan uap kukusan baglog.
Kelompok ini baru tiga tahun berdiri secara resmi. Tiga tahun adalah umur administrasi—bukan umur perjuangan. Sebab jauh sebelum ada surat pengukuhan dari desa, sebelum ada stempel, orang-orang yang kini tergabung dalam Kuwoci sudah membesarkan jamur lebih dari satu dekade. Mereka belajar tanpa guru, tanpa modul, hanya dari rasa penasaran, kebutuhan hidup, dan kecintaan pada proses.

Mereka meracik komposisi baglog dari nol, mencoba campuran, gagal, mengulang, berhasil, lalu gagal lagi. Ilmunya bukan dari seminar, tapi dari kesetiaan pada percobaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Dalam dunia mereka, yang disebut “uji coba” bukan catatan lab, tapi aroma fermentasi yang berubah sedikit saja—dan itu sudah cukup untuk menentukan rezeki hari itu.
Tiga tahun terakhir, Kuwoci jadi semacam bukti bahwa pemberdayaan tak harus menunggu program pemerintah turun dari langit. Kadang, ia lahir dari dapur sendiri. Dari warga yang saling percaya. Dari ibu-ibu yang, antara menanak nasi dan menjemur pakaian, ikut merawat baglog yang menggantung rapi seperti barisan harapan.

Di sinilah sisi kemanusiaannya terasa: budidaya jamur bukan hanya soal jual beli, tetapi soal bagaimana sebuah komunitas memilih untuk berdiri di atas kaki sendiri. Tidak banyak yang sadar, tetapi jamur sudah lama menjadi penopang ekonomi rumahan di wilayah-wilayah pinggiran. Begitu pula Kuwoci.
Harga jamur mungkin tidak akan pernah membuat seseorang tiba-tiba kaya raya. Tetapi ia cukup untuk menyekolahkan anak, cukup untuk membayar listrik, cukup untuk memastikan dapur berasap setiap hari. Di tanah pegunungan yang dingin, jamur memberi kehangatan yang nyata: penghasilan yang stabil, pekerjaan yang tidak mengasingkan, dan ritme hidup yang masih selaras dengan alam.
Yang menarik, kelompok ini menghimpun banyak perempuan. Bukan karena kesengajaan, tetapi karena mereka memang paling tabah. Paling teliti. Paling sabar menghadapi baglog yang rewel. Paling rajin bangun pagi hanya untuk memastikan suhu ruangan tidak naik setengah derajat terlalu cepat.

Dalam bahasa para ahli, ini disebut gender empowerment. Dalam bahasa warga, ini disebut “urip kudu iso gawe dhewe”—hidup harus bisa diusahakan sendiri. Di tangan ibu-ibu inilah, jamur bukan lagi sekadar bahan makanan, tapi alat untuk memulihkan martabat ekonomi keluarga.
Dan ketika ekonomi keluarga membaik, ketahanan pangan ikut bergerak. Jamur segar dari Kuwoci memenuhi kebutuhan dapur warga sekitar, menggantikan sebagian ketergantungan pada pasar besar. Produksi lokal yang sehat, murah, dan dekat. Sesederhana itu, ketahanan pangan bekerja.
Tetapi yang membuat Kuwoci benar-benar menarik adalah filosofi diam-diam yang mereka pegang: lebih baik tumbuh pelan tapi pasti, daripada cepat lalu busuk.
Mereka menghindari bahan kimia, menolak penggunaan pestisida sintetik, dan lebih memilih pestisida hayati agar jamur tetap aman dikonsumsi. Bagi mereka, jamur bukan barang dagangan semata; ia adalah makanan yang masuk ke tubuh sesama manusia. Dan tubuh manusia, bagi mereka, terlalu berharga untuk ditukar dengan sedikit keuntungan tambahan.
Filosofi seperti ini langka. Bukan karena orang tidak tahu, tetapi karena orang sering tidak sabar.
Ketika kita menyeruput kopi—hitam, pahit, dan jujur—kita sadar bahwa pemberdayaan masyarakat tidak melulu soal proyek besar, pelatihan formal, atau seminar tiga hari dua malam.
Kadang, ia lahir dari hal sederhana: tangan yang bekerja, kepala yang tidak cepat menyerah, dan komunitas yang saling menjaga. Kuwoci adalah contoh kecil bahwa masa depan pangan Indonesia tidak selalu berada di meja pejabat; ia juga lahir dari ruang-ruang lembab tempat jamur tumbuh perlahan.
Sederhana, tetapi justru itu esensinya. Kadang negara lupa, tapi rakyat tidak: ketahanan pangan dimulai dari halaman rumah dan keberanian untuk memulai dari yang kecil.
Reporter: Heriyosh
Editor : Tim Kopipahit.id
