Drakor, Dracin, dan Obsesi Medsos: Mengapa Cerita Kaya-Miskin Selalu Menarik?

“Fenomena drakor dan dracin di medsos menyorot kisah kaya-miskin, bullying, dan keberuntungan instan. Bagaimana pengaruhnya pada penonton?”

KOPIPAHIT.ID – Scroll feed media sosial hampir setiap hari terasa seperti ritual bagi banyak orang. Wajah CEO ganteng yang menyamar, si miskin yang tiba-tiba beruntung, atau drama bullying yang mengaduk emosi—semua hadir dalam bentuk serial pendek yang disebut dracin, atau versi layar lebar profesional drakor.

Fenomena ini bukan sekadar hiburan. Ia punya daya tarik yang memengaruhi cara orang memandang kesuksesan, hubungan sosial, bahkan diri mereka sendiri.

Obsesi Medsos dan Fantasi Kaya-Miskin

Nur Amalia, seorang mahasiswi di salah satu kampus terkemuka di Solo, menceritakan pengalamannya.

“Saya pernah hampir kecanduan mantengin cerita drakor dan dracin di medsos. Fenomena ini bisa memengaruhi obsesi seseorang. Maka harus bijak menyikapi fenomena itu,” ungkapnya.

Fenomena ini menarik karena hampir semua cerita punya pola yang sama: si miskin dibully, si kaya tampak sempurna, dan akhirnya si miskin mendapat “keberuntungan hidup” berupa cinta atau status sosial yang meningkat drastis.

Cerita ini membuat penonton merasa terhibur, sekaligus menanamkan fantasi tentang kesuksesan instan dan mobilitas sosial cepat.

Berbagai penelitian akademis mendukung pengamatan ini. Studi menunjukkan bahwa konsumsi drama Korea (drakor) dan seri pendek populer (dracin) secara intensif dapat memengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku penonton.

Penggemar drama Korea sering terpapar nilai budaya, narasi sosial, dan pola kaya-miskin yang membentuk pandangan mereka tentang kesuksesan dan hubungan sosial (Sitorus, 2021; ejournal.um-sorong.ac.id⁠).

Penelitian lain mencatat bahwa tontonan populer melalui media sosial dapat mendorong fanatisme cerita, imitasi gaya hidup karakter, hingga perubahan motivasi sosial (repository.ipb.ac.id⁠).

Algoritma, Produksi Murah, dan Pop Culture

Dari sisi industri, Zaenal Abidin, mahasiswa TI Vokasi di Solo, memberi perspektif menarik.

“Seri film pendek lebih menentukan algoritma di medsos. Biaya produksinya murah, mempermudah produksi, dan itu bagian dari penyebaran budaya pop culture. Sebenarnya industri film dalam negeri juga bisa membuat model film seri seperti itu, tapi dikemas agar mengandung pendidikan yang menarik,” jelasnya.

Pendek kata, algoritma medsos memicu konten-klise ini menjadi viral. Dracin berdurasi singkat, mudah dikonsumsi, dan cepat memancing emosi penonton. Sementara drakor, meski lebih panjang, tetap mengikuti pola kaya-miskin, bullying, dan keberuntungan instan yang sama, sehingga mudah diterima publik.

Hiburan atau Cermin Sosial?

Fenomena ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, konten tersebut memberi hiburan instan dan pelarian dari rutinitas sehari-hari. Di sisi lain, ia menanamkan fantasi tentang kesuksesan instan, romantisasi hidup kaya-miskin, dan balas dendam yang mudah.

Hal ini mencerminkan obsesi publik terhadap mobilitas sosial instan, sesuatu yang seringkali tidak realistis, tapi tetap menarik jutaan pengguna.

Yang menarik, banyak orang menonton berulang-ulang, seolah ingin hidup dalam cerita yang “sempurna” itu.

Padahal kenyataan hidup jauh berbeda: tidak ada CEO ganteng yang tiba-tiba jatuh cinta pada orang miskin secara dramatis, dan tidak ada formula instan untuk menghapus bullying atau kesulitan hidup sehari-hari.

Meski begitu, fenomena ini membuka peluang bagi industri film dalam negeri. Film seri bisa mengadaptasi format populer namun tetap edukatif. Cerita bisa menyisipkan pesan moral, literasi, atau kritik sosial, tanpa kehilangan daya tarik yang membuat orang menonton hingga selesai.

Dengan kata lain, drakor dan dracin bisa tetap menghibur sekaligus mendidik.

Menjadi Penonton yang Bijak

Pada akhirnya, drakor dan dracin bukan sekadar hiburan. Ia mencerminkan keinginan sosial, obsesi terhadap kesuksesan, dan tren konsumsi media. Yang penting bagi penonton adalah tetap bijak: nikmati hiburan, rasakan emosi, tapi jangan terlalu larut dalam fantasi yang menyesatkan.

Scroll feed boleh seru-seruan, tapi jangan sampai lupa bahwa kehidupan nyata tidak selalu seperti layar ponsel.

“Kadang di medsos semua orang bisa jadi CEO, semua orang bisa kaya. Tapi tetap saja, kita menatap layar dengan secangkir kopi, berharap dunia nyata sedikit lebih adil,” begitu Nur Amalia menutup ceritanya.

*) Ditulis oleh: Heriyosh