Kopi sebagai Simbol Solidaritas dan Perjumpaan: Dari Sejarah Kopi Dunia hingga Americano Dicoret dari Menu Kedai Kopi di Surakarta

“Sebuah kedai kopi di Surakarta menghapus Americano dari daftar menu di tengah konflik geopolitik global. Langkah sederhana ini memantik beragam tafsir sekaligus menghidupkan kembali percakapan tentang kopi tubruk dan nilai kemanusiaan.”

Foto.dok/ysp/kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Secangkir kopi sering dianggap sekadar minuman pengusir kantuk atau teman percakapan. Namun dalam perjalanan sejarahnya, kopi juga pernah menjadi simbol solidaritas, ruang perdebatan gagasan, hingga medium perjumpaan antar manusia.

Perbincangan mengenai makna kopi di ruang publik kembali mencuat setelah Kedai Kopi Titilaras memutuskan menghapus menu Caffè Americano dari daftar minuman mereka mulai Maret 2026.

Pendiri kedai tersebut, Arkha Tri Maryanto, menjelaskan bahwa keputusan itu bukan dimaksudkan sebagai sikap politik terhadap negara tertentu, melainkan sebagai upaya memperkenalkan kembali tradisi kopi yang lebih dekat dengan akar budaya masyarakat, khususnya kopi tubruk, sekaligus menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam ruang perjumpaan.

Keputusan Arkha menghapus Americano dari daftar menu di tengah situasi konflik geopolitik global tentu memunculkan berbagai interpretasi di kalangan pelaku maupun penikmat kopi.

Sebagian melihatnya sebagai ekspresi simbolik terhadap dinamika dunia, sementara yang lain memaknainya sebagai langkah kultural untuk mengangkat kembali identitas kopi lokal.

Namun pada akhirnya, semua tafsir tersebut sah saja. Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyikapi dan mengambil makna dari setiap perubahan yang terjadi.

Menurutnya, kopi seharusnya tidak sekadar menjadi komoditas atau tren gaya hidup, tetapi juga ruang untuk membangun kedekatan antar manusia.

Dari Dataran Ethiopia ke Seluruh Dunia

Sejarah kopi dunia umumnya ditelusuri dari kawasan Ethiopia. Salah satu kisah populer menyebutkan seorang penggembala bernama Kaldi yang menemukan efek stimulan biji kopi setelah melihat kambing-kambingnya menjadi lebih aktif setelah memakan buah dari tanaman tertentu.

Dari dataran tinggi Ethiopia, kopi kemudian menyebar ke wilayah Yemen sekitar abad ke-15. Di sana kopi mulai dibudidayakan dan dikonsumsi secara luas, terutama di kalangan komunitas sufi yang meminumnya untuk membantu tetap terjaga saat melakukan ibadah malam.

Kopi kemudian menyebar ke seluruh kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, dan akhirnya masuk ke Eropa pada abad ke-17. Kedai kopi pun mulai bermunculan di berbagai kota besar, menjadi tempat pertemuan para pedagang, intelektual, dan pemikir.

Namun dalam perjalanan sejarahnya, kopi juga pernah menghadapi larangan politik.

Di beberapa kota di Timur Tengah pada abad ke-16, kedai kopi sempat ditutup oleh penguasa karena dianggap menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk berdiskusi dan membicarakan urusan politik yang berpotensi mengkritik kekuasaan.

Larangan tersebut antara lain pernah terjadi di wilayah Mecca dan Cairo, meskipun kebijakan itu tidak bertahan lama karena popularitas kopi yang terus meningkat di masyarakat.

Dalam sejarah sosial Eropa, kedai kopi bahkan dijuluki sebagai “sekolah rakyat” karena menjadi ruang diskusi terbuka bagi berbagai kalangan.

Dari Eropa, kopi kemudian menyebar ke Asia, Amerika Latin, dan berbagai wilayah tropis yang cocok untuk budidaya tanaman tersebut, termasuk wilayah Nusantara pada masa kolonial.

Americano: Kopi dari Medan Perang

Salah satu varian kopi yang paling dikenal di dunia saat ini adalah Americano. Minuman ini memiliki sejarah yang relatif lebih baru dibanding tradisi kopi itu sendiri.

Istilah Americano sering dikaitkan dengan masa Perang Dunia II ketika tentara dari United States ditempatkan di Italy. Para tentara Amerika terbiasa dengan kopi seduhan yang lebih encer dibandingkan espresso Italia yang terkenal pekat.

Untuk menyesuaikan selera mereka, para tentara tersebut menambahkan air panas ke dalam espresso. Campuran tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat lokal sebagai “Americano”, yang berarti kopi bergaya Amerika.

Awalnya istilah itu kerap digunakan dengan nada bercanda oleh orang Italia. Namun seiring waktu, Americano justru menjadi salah satu menu kopi paling populer di dunia dan hampir selalu tersedia di kedai kopi modern.

Menghidupkan Kembali Tradisi Kopi Tubruk

Lebih dari tujuh dekade setelah kemunculannya, Americano telah menjadi bagian dari bahasa teknis dalam dunia kopi modern. Namun di Kedai Kopi Titilaras, minuman berbasis espresso dengan air panas sebenarnya tetap tersedia—hanya saja nama Americano tidak lagi digunakan.

Sebagai gantinya, menu tersebut diganti menjadi Black Ice untuk versi dingin dan Hot Black untuk versi panas.

Menurut Arkha, perubahan ini juga merupakan cara untuk membuka kembali ruang percakapan tentang kekayaan tradisi kopi lokal, salah satunya kopi tubruk yang telah lama menjadi bagian dari budaya minum kopi masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan kopi modern berbasis mesin espresso, kopi tubruk diseduh dengan cara sederhana: bubuk kopi langsung diseduh dengan air panas tanpa proses penyaringan.

Cara ini menghadirkan cita rasa yang kuat sekaligus menciptakan ritme minum kopi yang lebih perlahan.

“Dalam kopi tubruk ada proses menunggu, ada percakapan, ada ruang untuk saling mendengarkan,” kata Arkha.

Baginya, kedai kopi seharusnya bukan sekadar tempat menjual minuman, tetapi juga ruang sosial yang menghadirkan humanity—ruang di mana orang-orang dapat bertemu, berbagi cerita, dan membangun kedekatan sebagai sesama manusia.

Secangkir Kopi dan Nilai Kemanusiaan

Dalam sejarahnya, kopi memang tidak pernah hanya tentang rasa. Dari dataran tinggi Ethiopia hingga kedai-kedai kopi modern di kota-kota dunia, kopi selalu hadir sebagai bagian dari dinamika sosial manusia.

Di banyak tempat, kedai kopi menjadi ruang bagi lahirnya gagasan, diskusi, hingga solidaritas antar manusia.

Keputusan sebuah kedai kopi kecil di Surakarta untuk mengganti nama menu mungkin tampak sederhana. Namun langkah itu menunjukkan bahwa secangkir kopi masih dapat menjadi medium untuk mengingat kembali nilai yang sering terlupakan dalam kehidupan modern: perjumpaan, percakapan, dan kemanusiaan.

Dalam konteks itu, kopi tidak sekadar minuman. Ia adalah cerita tentang sejarah, budaya, dan cara manusia saling terhubung di tengah dunia yang terus berubah.

*) Ditulis oleh: Heriyosh