Ia Tak Lagi Melihat, Tapi Tak Kehilangan Cara Berkarya

“Bagi Pariatmojo, kehilangan penglihatan tidak mengakhiri hubungannya dengan dunia—ia hanya mengubah caranya menjangkau. Dari ingatan, sentuhan, dan imajinasi, ia kembali melukis, membangun ulang makna seni tanpa bergantung pada mata.”

Pariatmojo, Perupa Asal Surakarta

KOPIPAHIT.ID – Bagi Pariatmojo, perupa asal Surakarta itu, melukis tidak lagi berangkat dari apa yang tampak di depan mata. Ia bekerja dari hal-hal yang tersisa—ingatan, kebiasaan, dan rasa yang masih bisa ia pegang.

Sejak penglihatannya hilang, kanvas bukan lagi sesuatu yang bisa ia lihat, tapi tetap bisa ia pahami. Dari situlah semuanya dimulai lagi, dengan cara yang berbeda.

Ia tidak selalu seperti ini. Ada masa dimana ia pernah bisa melihat seperti orang lain—mengenali warna, memahami ruang, dan mengerjakan sesuatu dengan keyakinan visual. Ia pernah belajar seni, menekuni dunia yang memang menuntut ketelitian mata.

Melukis saat itu adalah sesuatu yang utuh. Ia tahu apa yang ia buat, ke mana arah garisnya, dan bagaimana hasil akhirnya akan terlihat.

Lalu semuanya berubah.
Penglihatannya tidak hilang sekaligus. Gangguan kesehatan yang ia alami sejak pertengahan 1990-an perlahan mengubah cara ia melihat dunia.

Setelah sempat mengalami gegar otak pada 1994, kondisinya terus menurun. Pandangannya makin kabur dari waktu ke waktu, hingga akhirnya sekitar 2009, ia benar-benar tidak lagi bisa melihat.

Perubahan itu tidak hanya soal fisik. Ia juga mengubah caranya menjalani hari. Hal-hal sederhana jadi tidak sesederhana dulu. Banyak hal harus dipelajari ulang. Dan di antara semua itu, melukis menjadi sesuatu yang paling sulit untuk disentuh kembali.

Ada masa ketika ia benar-benar berhenti. Kanvas tidak lagi dibuka. Kuas tidak lagi digunakan. Ia seperti mengambil jarak dari sesuatu yang dulu begitu dekat. Bukan karena ia tidak ingin kembali, tapi karena ia belum menemukan caranya.

Waktu berjalan cukup lama dalam keadaan seperti itu. Sampai akhirnya ia mencoba lagi. Tidak ada momen besar atau keputusan dramatis. Hanya keinginan sederhana untuk kembali memegang apa yang dulu pernah ia kenal.

Ia mulai dari hal kecil—menyentuh kanvas, meraba permukaannya, mencoba mengingat kembali apa yang dulu biasa ia lakukan.

Tapi tentu saja, semuanya tidak sama. Ia tidak bisa lagi melihat garis yang ia buat. Ia tidak tahu apakah warna yang ia pilih sesuai atau tidak. Ia bahkan tidak yakin apakah sapuan kuasnya masih berada di bidang yang ia bayangkan.

Di situlah ia mulai menyesuaikan diri. Ia mengganti cara melihat dengan cara lain. Ia mengandalkan ingatan—tentang bentuk dan warna yang pernah ia kenal. Ia menggunakan sentuhan—untuk memahami ruang di depannya. Ia juga mengandalkan imajinasi—untuk mengisi bagian yang tidak bisa ia pastikan.

Kadang ia meraba objek sebelum melukisnya. Mengenali bentuknya lewat tangan, lalu mencoba menyusunnya kembali di dalam pikiran. Dari situ, ia mulai bekerja di atas kanvas.

Ia tidak pernah benar-benar tahu seperti apa hasil akhirnya. Sesekali, ia meminta orang lain untuk menjelaskan lukisannya. Bukan untuk dinilai bagus atau tidak, tapi sekadar untuk memahami apa yang sebenarnya telah ia buat.

Namun seiring waktu, kebutuhan itu tidak lagi terlalu penting. Ia mulai berdamai dengan prosesnya sendiri.
Melukis tidak lagi tentang hasil yang harus sesuai dengan bayangan. Melukis menjadi ruang untuk bergerak, untuk tetap melakukan sesuatu yang berarti baginya.

Perubahan itu juga terlihat dalam karyanya. Dulu, ia cenderung membuat bentuk yang lebih jelas. Sekarang, karyanya lebih lepas. Tidak selalu bisa dikenali dengan mudah. Ada yang terasa abstrak, ada yang lebih seperti ungkapan rasa.

Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Ia tidak lagi mengejar kesempurnaan bentuk. Ia tidak lagi mencoba memenuhi standar visual seperti sebelumnya. Ia melukis apa yang ia rasakan, tanpa harus memastikan apakah itu “benar” secara visual atau tidak. Dan itu membuat karyanya punya karakter sendiri.

Di tengah dunia seni yang sering menempatkan visual sebagai hal utama, apa yang dilakukan Pariatmojo terasa berjalan di jalur lain. Ia tidak menawarkan ketepatan bentuk. Ia tidak menjanjikan detail yang rapi. Ia menghadirkan sesuatu yang lebih dekat ke pengalaman.
Sesuatu yang lahir dari keterbatasan, tapi tidak berhenti di sana.

Namanya memang tidak banyak muncul di media besar. Ia juga tidak selalu berada di ruang-ruang pameran yang ramai. Sebagian besar prosesnya justru berlangsung di tempat yang tidak terlalu terlihat.
Tapi ia tetap berkarya.

Ia tetap mengikuti pameran, tetap terhubung dengan komunitas seni, terutama di Solo dan Yogyakarta. Tidak selalu besar, tidak selalu ramai, tapi cukup untuk membuatnya terus berjalan.

Banyak orang mungkin melihat kisahnya sebagai cerita inspiratif. Tentang seseorang yang tetap bertahan dalam keterbatasan.
Tapi sebenarnya, yang ia lakukan lebih sederhana dari itu.

Ia hanya mencoba tetap menjalani hidupnya dengan cara yang masih mungkin ia lakukan. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat dramatis. Ia hanya kembali ke sesuatu yang pernah ia kenal, lalu menyesuaikannya dengan kondisi yang sekarang ia hadapi.

Melukis, bagi Pariatmojo, bukan lagi soal menunjukkan sesuatu kepada orang lain. Ini tentang menjaga dirinya tetap terhubung dengan dunia. Di dalam setiap goresan, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat. Ada usaha untuk memahami ulang ruang, bentuk, dan dirinya sendiri. Ada penyesuaian yang terus berlangsung, tanpa pernah benar-benar selesai.

Dan mungkin, di situlah letak yang pelan-pelan ia pahami. Kehilangan penglihatan tidak serta-merta membuat dunia ikut hilang. Yang berubah hanyalah cara ia menjangkaunya.

Kini, ia tidak lagi bergantung pada apa yang tampak. Ia meraba, mengingat, dan menyusun ulang segala sesuatu dengan caranya sendiri. Apa yang dulu dilihat, sekarang dirasakan. Apa yang dulu pasti, sekarang dijalani dengan lebih sabar.

Melukis, pada akhirnya, bukan lagi soal menghadirkan bentuk yang bisa dikenali. Tapi tentang menjaga hubungan—dengan ingatan, dengan diri sendiri, dan dengan dunia yang tetap berjalan di sekitarnya.

Dan selama tangannya masih bergerak di atas kanvas, selama ia masih mau mencoba, dunia itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya hadir dengan cara yang berbeda.

*) Ditulis oleh: Heriyosh