Biar Aku Tetap Menunggu di Sini

Ilustrasi By Kopipahit.id

Pagi di Stasiun Klaten selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, seperti seseorang yang ragu untuk mengetuk pintu kenangan.

Kabut tipis menggantung di udara, dan suara roda kereta yang menggesek rel menjadi semacam doa yang tak pernah selesai.

Aku masih di sini.

Di bawah rindang pohon yang entah sejak kapan menjadi saksi kebiasaanku. Di depanku, halaman stasiun tak pernah benar-benar sepi—orang-orang lalu lalang, datang dan pergi dengan wajah-wajah yang asing.

Sesekali mataku mengikuti langkah mereka, dan entah mengapa, selalu ada satu kemungkinan kecil yang tak pernah benar-benar hilang: bahwa di antara mereka, ada kamu.

Secangkir kopi hangat di tangan, yang uapnya naik pelan, seolah mencoba menulis sesuatu di udara—sesuatu yang tak pernah bisa kubaca.

Dulu, di tempat ini, kita sering bertemu.

Kau selalu datang lebih dulu. Duduk dengan sabar, sesekali menatap jam, lalu tersenyum ketika melihatku berjalan tergesa.

Katamu, stasiun adalah tempat paling jujur—karena di sinilah orang-orang benar-benar pergi atau benar-benar kembali.

Aku tidak pernah tahu, pada akhirnya kau memilih yang mana.

Sudah sekian purnama berlalu sejak terakhir kali kita bertemu di sini. Hari itu terasa biasa saja. Kau memesan kopi seperti biasa, aku mengeluh tentang hal-hal kecil seperti biasa, dan kita tertawa tanpa menyadari bahwa itu akan menjadi yang terakhir.

Kau pergi tanpa janji untuk kembali.
Dan aku, tetap datang di sini.

Awalnya hanya sesekali. Lalu menjadi kebiasaan. Hingga akhirnya, seperti hari ini, aku duduk lagi di bawah pohon yang sama, dengan secangkir kopi pahit menemani kesendirianku.

Yang kuingat hanya kau.
Setiap suara langkah kaki di kejauhan membuatku menoleh.

Setiap kereta yang berhenti membuat jantungku berdegup lebih cepat. Barangkali, aku pikir, kau turun dari salah satu gerbong itu—membawa rindu yang sama, membawa cerita yang tertunda.

Namun yang datang selalu orang lain.

Orang-orang yang sibuk dengan tujuan mereka sendiri. Yang datang dengan pelukan, atau pergi dengan air mata.

Sementara aku tetap di sini, menjadi bagian dari sebuah cerita yang belum usai.

Kadang aku bertanya pada diriku sendiri—apakah ini yang kau maksud dengan kejujuran stasiun?

Bahwa tidak semua yang menunggu akan dipertemukan.

Angin pagi bergerak pelan, menggugurkan beberapa daun di sekitarku. Aku mengangkat cangkir kopi, menyeruputnya perlahan.

Rasanya pahit, tapi entah kenapa, aku tidak pernah mencoba mencampurnya dengan gula.

Barangkali karena menunggu pun begitu. Ia pahit, tapi aku memilih untuk tidak mengubahnya.

Seorang anak kecil berlari melewatiku, tertawa tanpa beban. Ibunya memanggil dari kejauhan. Aku tersenyum tipis, lalu kembali memandang halaman stasiun—pada lalu lalang orang-orang yang tak kukenal, sambil diam-diam tetap percaya, mungkin saja, suatu hari, langkahmu akan muncul di antara mereka.

Kalau suatu hari kau kembali, mungkin kau akan menemukanku masih di sini.

Masih di tempat yang sama. Masih dengan kopi yang mulai dingin. Masih dengan mata yang sesekali menoleh, berharap melihatmu berjalan ke arahku, seperti dulu.

Dan jika hari itu benar-benar datang, aku tidak akan bertanya ke mana kau pergi.

Aku hanya akan berkata, pelan, seperti pagi di Stasiun Klaten yang tak pernah berubah:

“Aku masih di sini.”

Karena beberapa pertemuan tidak pernah benar-benar selesai.
Dan beberapa orang, memilih untuk tetap menunggu entah sampai kapan.

*) Stasiun Klaten (1/4/2026)
*) Ditulis oleh: A. Senandika

Leave a Reply

☕ Silakan berkomentar dengan nalar jernih. Kami menyukai pendapat tajam, bukan serangan personal. Kritik boleh pahit, asal tetap berisi.