
Malam itu, langit seperti sedang menahan sesuatu. Bulan purnama menggantung utuh—terlalu terang untuk sekadar disebut indah, terlalu dingin untuk disebut ramah.
Cahayanya jatuh berpendar, menimpa apa pun yang berani berdiri di bawahnya.
Aku salah satunya.
Dengan secangkir kopi yang pahitnya mulai kehilangan arti, aku berdiri di sana ketika kau datang—tanpa jejak yang sempat kutangkap.
Rambut sebahu, celana pendek, dan kaos abu-abu—sederhana, tapi justru sulit diabaikan.
Aku melihatmu lebih lama dari yang seharusnya. Dan dalam waktu sesingkat itu, aku sudah membuat kesimpulan yang terlalu cepat—
kau angkuh.
“Kau terlihat seperti sedang kehilangan sesuatu,” kataku, akhirnya.
Kau menoleh. Tatapanmu tidak marah, tapi juga tidak lunak. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu sering disalahpahami hingga lelah untuk meluruskan.
“Dan kau terlihat seperti seseorang yang terlalu cepat merasa mengerti,” jawabmu.
Aku hampir mundur. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam suaramu—tenang, tapi seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai—yang membuatku tetap tinggal.
Percakapan kita tidak dimulai dengan hangat. Ia tumbuh pelan, seperti api kecil yang ragu untuk menyala. Tapi begitu ia menemukan celah, ia merambat tanpa bisa ditahan.
Kau bercerita, dengan cara yang tidak pernah utuh—hanya serpihan-serpihan yang jatuh perlahan.
Tentang menjadi kuat terlalu lama. Tentang dunia yang meminta terlalu banyak tanpa pernah benar-benar memberi. Tentang kesepian yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dipikul.
“Apa yang kau cari di sana?” tanyaku saat itu, ketika kau terdiam cukup lama.
Kau tersenyum tipis. “Sesuatu yang pernah kupakai untuk merasa utuh.”
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Malam itu bukan tentang jawaban. Ia tentang keberanian untuk tetap tinggal di dalam tanda tanya.
Angin berhenti menjadi sekadar angin. Jarak di antara kita kehilangan maknanya.
Kau mendekat.
Seakan semuanya sudah tahu ke mana harus tertuju. Hanya naluri yang bergerak lebih dulu daripada logika.
Dan seperti dua luka yang akhirnya saling mengenali bentuknya, kita menemukan bahasa yang tidak pernah diajarkan siapa pun. Batas-batas itu seperti lupa untuk tetap ada.
Di antara jarak yang lenyap itu, ada hal-hal kecil yang diam-diam tinggal.
Hangat kulitmu, jeda napasmu, dan satu hal yang tak pernah benar-benar pergi dariku—aroma bagian tubuhmu yang samar, seperti jejak hujan di tanah kering, yang entah bagaimana terus melekat dalam ingatan, bahkan setelah malam itu usai.
Bulan purnama menggantung di atas kepala, dingin dan setia, menjadi saksi sesuatu yang tidak kita rencanakan, tapi juga tidak kita tolak.
Dalam keheningan itu, aku menyadari sesuatu—
kau tidak pernah angkuh. Kau hanya berdiri terlalu tegak di atas luka yang terlalu dalam.
Dan aku, terlalu lama mengira dunia bisa dipahami hanya dengan sekali melihat.
Malam merambat tanpa terasa. Waktu kehilangan bentuknya. Yang tersisa hanya napas yang perlahan kembali teratur, dan keheningan yang kali ini tidak lagi terasa kosong.
Kau terbaring, menatap bulan purnama. Lebih lama dari sebelumnya.
“Kadang,” katamu pelan, hampir seperti berbicara pada dirimu sendiri, “aku merasa seperti meninggalkan sesuatu di sana.”
“Apa?”
Kau mengangkat tanganmu sedikit. “Mahkotaku.”
Kali ini aku mengerti.
Bukan sesuatu yang bisa dilihat. Tapi yang membuatmu dulu berdiri tanpa ragu. Sesuatu yang membuatmu percaya bahwa dunia tidak akan selalu merenggut.
Dan malam itu—entah karena lelah, atau karena percaya—kau melepas sisa-sisa itu.
Kau pergi, dan malam kembali seperti semula. Barangkali memang bukan untuk itu kita dipertemukan—
bukan untuk tinggal, tapi untuk kehilangan dengan cara yang lebih halus.
Sejak itu, aku tahu—yang tertinggal bukan mahkotamu.
Aku masih sesekali datang,
berdiri di bawah bulan yang sama.
Tetap untuk menunggumu.
Juga untuk melihat—apakah ada sesuatu yang masih menggantung di sana, atau diam-diam telah jatuh
dan tak pernah kembali utuh.
*) Purnama pertama (2016)
*) Ditulis oleh: A. Senandika
