
KOPIPAHIT.ID – Di usia ke-53, PDI Perjuangan tidak sedang merayakan kemenangan. Ia sedang berhadapan dengan pertanyaan yang lebih tajam dari kader akar rumput: masihkah ia sebagai partai wong cilik, atau sudah berubah menjadi rumah nyaman bagi segelintir elite?
Partai ini lahir dari perlawanan, dari jalan-jalan sempit, dari rapat kecil, dari keberanian orang-orang biasa yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Namun setelah terlalu lama berada di pusat kekuasaan, banyak kader lamanya merasa ada sesuatu yang pelan-pelan bergeser.
Dalam perayaan HUT ke-53 sekaligus pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I di Ancol, Jakarta Utara, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato yang menggarisbawahi arah perjuangan partai.
Ia menekankan bahwa politik harus ditempatkan kembali sebagai alat pengabdian kepada rakyat, bukan sekadar mengejar jabatan atau popularitas semata. Megawati menegaskan bahwa kader tidak boleh menjadi bagian dari kerusakan alam maupun penderitaan rakyat, serta harus berani berdiri tegak pada kebenaran walaupun sendirian.
Selain itu, Ia juga menyebut bahwa kader PDIP harus menjadi “pandu Ibu Pertiwi”—menjaga keseimbangan manusia dan alam, kekuasaan dan moral, serta pembangunan dan keadilan.
“Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian,” ujar Megawati dalam pidatonya, mengingatkan kembali nilai moral perjuangan politik.
Seorang kader dari Kabupaten Karanganyar yang bergabung sejak awal 1990-an menceritakan dengan nada kegetiran:
“Dulu kami membangun partai ini dari nol. Dari kampung ke kampung, dari tekanan ke tekanan. Sekarang kami sering merasa seperti penonton di rumah yang dulu kami bangun sendiri,” ucapnya.
Di tingkat akar rumput, keluhannya hampir seragam. Mereka merasa hanya dibutuhkan ketika suara diperlukan.
“Setiap pemilu kami diminta bergerak. Kami diminta mengumpulkan suara. Tapi setelah itu, kami tidak pernah benar-benar diajak bicara. Keputusan selalu datang dari atas. Kami hanya disuruh mengamini,” ujar seorang kader lainnya.
Bagi mereka, partai yang dulu menjadi ruang diskusi dan perdebatan kini lebih sering menjadi ruang konfirmasi. Aspirasi petani, buruh, nelayan, dan warga kampung dikemas rapi dalam janji-janji, lalu menghilang setelah kursi kekuasaan diraih.
Kekecewaan itu semakin dalam ketika mereka menyaksikan bagaimana kekuasaan diwariskan.
“Sekarang yang naik bukan yang paling loyal bekerja untuk partai, tapi yang paling dekat. Anak, keluarga, orang lingkar dalam. Kalau seperti ini, buat apa kaderisasi puluhan tahun?”
Di situlah banyak kader merasa demokrasi internal mulai kehilangan maknanya. Jalur panjang pengabdian perlahan dipotong oleh jalan pintas bernama kedekatan dan silsilah.
Seorang kader lama memberi gambaran yang kemudian sering beredar di kalangan akar rumput.
“PDIP sekarang itu seperti bonsai. Indah, rapi, tapi akarnya dipotong. Ia tidak boleh tumbuh liar seperti dulu, karena kalau terlalu kuat, susah dikendalikan,” ujarnya.
Dulu, bagi mereka, PDIP adalah pohon besar. Ia tumbuh bebas, kadang berantakan, tapi akarnya menghujam kuat ke tanah rakyat. Sekarang, ia lebih sering terlihat rapi di ruang pamer kekuasaan, tetapi jauh dari tanah tempat ia seharusnya berpijak.
Meski begitu, kritik ini tidak datang dari niat untuk meruntuhkan. Justru sebaliknya.
“Kami tidak ingin partai ini hancur. Kami hanya ingin ia kembali ke rakyat. Kalau PDIP mau hidup lama, para pejabatnya harus turun lagi ke sawah, ke kampung, ke buruh. Bukan cuma datang waktu kampanye,” pungkasnya.
Harapan itu sederhana: agar kader-kader yang kini duduk sebagai anggota legislatif dan pejabat eksekutif kembali menyentuh tanah, mendengar langsung keluhan warga, serta mencium bau keringat orang-orang yang selama ini berjuang dengan tulus untuk membesarkan partai dan menjaga ideologi partai.
Ulang tahun ke-53 seharusnya menjadi momen untuk bercermin, bukan sekadar berfoto di atas panggung dengan kegiatan seremonial. Bagi partai yang pernah lahir dari bawah, tidak ada cara lain untuk tetap hidup selain terus kembali ke bawah.
Karena partai yang terlalu lama nyaman di atas, lama-lama akan lupa dari mana ia berasal. Dan ketika itu terjadi, jarak dengan rakyat bukan lagi soal persepsi, melainkan kenyataan.
Reporter: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
