“Mudik Lebaran tidak selalu tentang kesuksesan. Kisah Rahman, pekerja serabutan di Jakarta, menggambarkan dilema perantau saat pulang kampung menjelang Idul Fitri.”

KOPIPAHIT.ID – Setiap menjelang Idul Fitri, jalan-jalan menuju kampung kecil di Jawa selalu berubah. Mobil dengan pelat kota besar datang silih berganti, membawa orang-orang yang pulang bersama rindu yang lama disimpan.
Di antara sawah, rumah-rumah sederhana, dan langit desa yang tenang, kampung kembali ramai oleh cerita tentang pulang.
Di sebuah kampung kecil di Jawa Tengah bagian timur, suasana itu selalu datang hampir dengan cara yang sama setiap tahun.
Bagi Rahman, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Setiap tiket yang ia beli menjelang Idul Fitri seolah membawa satu beban yang tidak pernah tertulis: harapan orang-orang kampung bahwa siapa pun yang merantau pasti kembali dengan keberhasilan.
Namanya Rahman.
Pekerjaannya tidak punya nama yang jelas. Kadang buruh bongkar muat, kadang membantu sopir truk, kadang ikut kerja apa saja yang bisa menghasilkan uang harian di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok.
Kalau ditanya profesinya, Rahman biasanya hanya menjawab pendek, “serabutan.”
Jawaban yang sederhana, tapi sering membuat orang langsung berhenti bertanya.
Mungkin karena kata itu sudah cukup menjelaskan bahwa hidupnya tidak punya jadwal tetap, tidak punya gaji bulanan, dan tentu saja tidak punya tunjangan hari raya.
Namun ada satu hal yang hampir selalu ia lakukan setiap tahun: mudik.
Seperti jutaan orang lain di negeri ini, Rahman juga ikut arus pulang kampung setiap menjelang Idul Fitri. Kampung halamannya berada di sebuah kampung kecil di Jawa Tengah bagian timur. Kampung itu biasanya sunyi sepanjang tahun.
Tetapi begitu Lebaran datang, tempat itu berubah seperti kota kecil dadakan. Motor baru muncul dari gang sempit, mobil berpelat luar daerah parkir di halaman rumah, dan orang-orang yang setahun hilang tiba-tiba kembali dengan wajah yang seolah lebih cerah dari biasanya.
Mudik Bukan Sekadar Pulang
Mudik di kampung Rahman bukan sekadar pulang. Ia sudah menjadi semacam ritual sosial. Orang-orang datang bukan hanya membawa tas, tapi juga membawa cerita keberhasilan yang kadang terdengar terlalu rapi untuk menjadi kenyataan.
Rahman sendiri pulang dengan niat yang jauh lebih sederhana. Ia hanya ingin sungkem kepada ibunya. Duduk sebentar di ruang tamu rumah kecil yang dindingnya masih dari papan. Lalu berjalan ke rumah saudara-saudara yang masih tersisa di kampung halaman.
Tidak ada rencana besar. Tidak ada agenda pamer. Tetapi kampung sering punya imajinasi sendiri tentang perantau.
Begitu seseorang lama tinggal di kota, statusnya otomatis naik beberapa tingkat. Ia dianggap sudah “jadi orang”. Bahkan sebelum ia turun dari bus.
Rahman sering merasa lucu memikirkan hal ini.
Di Jakarta, ia hanyalah satu dari ratusan pekerja harian di sekitar pelabuhan. Orang yang bisa hilang dari pekerjaan kapan saja tanpa ada yang benar-benar menyadarinya.
Tetapi begitu sampai di desa, ia berubah menjadi tokoh penting.
Tetangga akan datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Kerja apa sekarang di Jakarta?”
“Sudah punya usaha sendiri?”
“Gajinya berapa sebulan?”
Rahman biasanya hanya tersenyum.
Pertanyaan itu sering datang seperti ujian lisan yang tidak pernah ia persiapkan jawabannya. Padahal ia pulang bukan untuk sidang laporan tahunan.
Kadang Rahman merasa mudik bukan hanya perjalanan pulang, tetapi juga perjalanan menuju ekspektasi orang lain.
Suatu sore, Yu Parmi sempat bercerita kepadanya.
“Pak Nyoto anaknya pulang semua Lebaran kali ini,” katanya.
“Kemarin sampai di rumah membawa mobil sendiri-sendiri.”
Yu Parmi mengabarkan itu kepada Rahman dengan nada yang sulit ditebak. Entah sebagai kabar biasa, atau mungkin sekadar cerita yang ingin disampaikan begitu saja.
Rahman hanya tersenyum kecil.
Teman sebaya anaknya Pak Nyoto rupanya sudah menjadi orang yang sukses, setidaknya menurut cerita Yu Parmi.
Di kampung, cerita seperti itu biasanya hanya kabar biasa. Tetapi entah mengapa, selalu terasa seperti perbandingan.
Orang merantau dianggap sukses.
Orang merantau dianggap pasti punya uang. Orang merantau dianggap pulang membawa perubahan.
Seolah-olah kota selalu memberikan kemenangan kepada siapa pun yang datang mencarinya. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kota kadang hanya memberi kesempatan untuk bertahan hidup. Bukan untuk menjadi kaya.
Ekspektasi Kampung vs Kenyataan Kota
Ironinya, Rahman sering merasa lebih miskin saat berada di kampung dibandingkan ketika ia bekerja di pelabuhan.
Di Jakarta, semua orang sama-sama sibuk bekerja. Tidak ada yang peduli siapa yang sukses dan siapa yang sekadar bertahan.
Tetapi di kampung, ukuran keberhasilan bisa berubah menjadi tatapan mata. Bukan tatapan jahat, sebenarnya. Lebih tepat disebut tatapan penuh harapan. Harapan yang kadang terlalu berat untuk dipikul oleh seseorang yang penghasilannya tidak pernah pasti.
Karena itulah setiap menjelang Lebaran, Rahman selalu merasakan dilema kecil. Ia rindu pulang. Tetapi ia juga tahu bahwa kepulangan sering membawa semacam panggung yang tidak pernah ia minta.
Panggung tempat orang-orang mengira hidupnya sudah jauh berubah. Padahal Rahman masih orang yang sama. Masih bangun pagi di dekat pelabuhan. Masih menunggu pekerjaan datang seperti menunggu kapal bersandar.
Dan setiap tahun, ia tetap pulang.
Bukan untuk menunjukkan keberhasilan. Melainkan untuk memastikan bahwa di tengah kehidupan yang serba sementara di kota, masih ada satu tempat yang bisa ia sebut rumah untuk pulang.
*) Ditulis oleh: Heriyosh
