Di Bawah Terik dan Hujan: Cerita Sekar Menjaga Angkringan Stadion 45

“Di sudut Stadion 45 Karanganyar, Sekar menjaga angkringan kecilnya—bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi untuk memastikan tiga anaknya tetap bisa melanjutkan hidup.”

Ilustrasi By Kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Pagi datang seperti biasa, tapi bagi Sekar, hari selalu dimulai dengan hal yang sama: menyiapkan dagangan dan berharap ada yang singgah.

Di sekitar Stadion 45 Karanganyar, ia membuka angkringannya. Tidak besar, tidak selalu ramai, tapi dari situlah hidupnya berjalan. Gelas-gelas disusun, air panas siap, dan hari pelan-pelan dimulai.

Sekar adalah ibu dari tiga anak. Sejak suaminya meninggal karena Covid-19, ia menjalani semuanya sendiri. Angkringan ini bukan lagi sekadar usaha, tapi jadi pegangan utama agar dapur tetap menyala.

Ia jualan dari pagi sampai malam, kadang sampai sekitar jam 10. Dalam sehari, uang yang berputar di lapaknya sekitar 200 sampai 250 ribu rupiah. Sekilas terlihat cukup, tapi sebenarnya belum tentu.

Ada yang harus dibayar. Tenaga yang membantu dari pagi sampai sore, sekitar 50 sampai 70 ribu rupiah. Belum lagi retribusi dan ongkos bongkar pasang lapak.

Setelah semua itu, sisa yang dibawa pulang sering kali tidak banyak.
Tapi Sekar tetap jalan. Tangannya terus bekerja—menuang teh, menyiapkan pesanan, merapikan dagangan—meski pembeli tidak selalu datang. Kadang dalam satu jam hanya satu-dua orang yang berhenti. Lebih sering, ia hanya menunggu.

Cuaca ikut bicara. Kalau hujan turun, suasana langsung berubah. Orang-orang cepat berlalu, stadion jadi sepi. Sekar tetap bertahan, meski tahu hari itu tidak akan banyak hasil. Kalau panas, sedikit lebih baik. Es teh lebih cepat habis, orang lebih mau berhenti walau sebentar. Tidak selalu ramai, tapi cukup untuk membuat hari tetap berarti.

Apa yang dijalani Sekar mungkin tidak jauh dari yang dialami banyak orang. Hidup berjalan bukan karena semuanya mudah, tapi karena harus terus dilanjutkan.

Banyak orang melihat angka—200 ribu sehari—dan menganggap itu lumayan. Tapi jarang yang tahu berapa yang benar-benar tersisa, dan bagaimana cara membaginya untuk kebutuhan yang tidak pernah berhenti.

Di tempat kecil itu, Sekar belajar satu hal yang mungkin tidak tertulis di mana-mana: bertahan juga butuh kekuatan.

Bagi Sekar, berhenti bukan pilihan.
Besok, ia akan datang lagi. Menata ulang gelas, menyiapkan air panas, dan menunggu seperti hari ini.
Tidak ada yang berubah banyak.
Tapi hidup tetap berjalan.
Dan bagi Sekar, itu sudah berarti.

*) Ditulis oleh: Heriyosh

Leave a Reply

☕ Silakan berkomentar dengan nalar jernih. Kami menyukai pendapat tajam, bukan serangan personal. Kritik boleh pahit, asal tetap berisi.