Bukan Soal Buku Tulis dan Pena: Kekerasan Struktural pada Anak Miskin

“Kematian seorang anak di Nusa Tenggara Timur cepat diberi penjelasan yang terasa masuk akal. Terlalu masuk akal, hingga membuat kita lupa bertanya: benarkah hidup seorang anak bisa diringkas menjadi soal buku tulis dan pena?”

KOPIPAHIT.ID – Setiap kali tragedi menimpa anak dari keluarga miskin, selalu ada dorongan untuk segera mencari penjelasan yang paling sederhana. Penjelasan yang mudah dipahami, mudah dibagikan, dan cukup menenangkan kegelisahan orang dewasa. Dalam kasus anak yang mengakhiri hidup di Nusa Tenggara Timur, penjelasan itu muncul dalam satu narasi yang cepat menyebar: ia disebut meninggal karena tidak dibelikan buku tulis dan pena.

Narasi semacam ini terasa masuk akal. Ia menawarkan sebab yang konkret dan mudah dibayangkan. Namun justru karena itu, ia berbahaya. Tragedi yang lahir dari proses panjang direduksi menjadi satu peristiwa kecil, seolah kehidupan seorang anak dapat dipahami hanya dari satu momen, tanpa melihat konteks yang membentuk hari-harinya.

Masalahnya memang bukan buku tulis dan pena. Benda itu hanyalah penanda dari sesuatu yang lebih dalam.

Bagi banyak anak dari keluarga miskin, keinginan sederhana sering datang bersama rasa ragu. Ragu untuk meminta, ragu untuk berharap, ragu untuk mengungkapkan kebutuhan. Anak belajar membaca keadaan orang tuanya sejak dini: kelelahan sepulang kerja, kecemasan soal biaya sekolah, percakapan yang sering terhenti di tengah jalan. Dari situ tumbuh kesadaran bahwa tidak semua hal pantas diucapkan.

Dalam konteks seperti ini, buku tulis tidak lagi sekadar alat belajar. Ia menjadi batas. Batas antara keinginan dan kemampuan, antara harapan dan rasa bersalah. Ketika batas itu terasa terlalu kuat, yang muncul bukan hanya kekecewaan, tetapi juga perasaan bahwa dirinya sendiri ikut menjadi beban.

Kemiskinan, dengan demikian, tidak bekerja semata sebagai ketiadaan materi. Ia juga membentuk cara berpikir dan merasakan. Ia hadir dalam relasi sehari-hari, dalam cara berbicara yang hemat, dalam kebiasaan menahan diri. Anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa hidup perlu dijalani dengan banyak pengertian, sering kali tanpa ruang untuk menyampaikan kesulitan yang mereka alami.

Dalam banyak keluarga, pola pengasuhan berlangsung di bawah tekanan yang terus-menerus. Orang tua berusaha bertahan hidup sekaligus mendidik anak agar kuat dan tidak manja. Kepatuhan menjadi nilai penting. Anak yang jarang meminta dianggap dewasa. Anak yang tenang dianggap tidak memiliki masalah.

Padahal, ketenangan sering kali hanya berarti satu hal: anak tidak tahu ke mana harus bercerita.

Di sekolah-sekolah desa, situasi ini kerap berulang. Kelas berjalan seperti biasa, tugas dikerjakan, absen terisi. Anak yang tidak mengganggu jalannya pelajaran jarang menjadi perhatian. Tidak ada yang benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja, karena tidak ada tanda yang terlihat mencolok.

Dalam sistem pendidikan yang menilai ketertiban dan capaian akademik sebagai indikator utama, kegelisahan batin nyaris tidak memiliki tempat.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kasus anak yang mengakhiri hidup terus terjadi setiap tahun. Faktor penyebabnya berlapis: tekanan psikologis, perundungan, relasi keluarga yang minim komunikasi, serta lingkungan sekolah yang belum memiliki mekanisme pendampingan yang memadai. Kasus di NTT bukan pengecualian, melainkan bagian dari pola yang lebih luas.

Namun pembahasan publik sering berhenti pada kisah-kisah yang mudah dikasihani. Buku tulis, seragam sekolah, atau biaya pendidikan menjadi fokus utama, sementara kondisi batin anak hampir tak pernah dibicarakan. Simpati memang muncul, tetapi cepat berlalu. Tidak banyak yang sungguh-sungguh bertanya tentang sistem yang membuat anak-anak belajar menanggung beban sendirian.

Ketika seorang anak akhirnya mengakhiri hidupnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukan semata-mata tentang keputusan anak itu sendiri. Lebih penting untuk melihat lingkungan yang membentuk keputusan tersebut. Keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara hadir—atau tidak hadir—dalam proses yang panjang sebelum tragedi itu terjadi.

Anak itu tidak meninggal karena buku tulis dan pena. Ia meninggal dalam situasi yang membuatnya merasa tidak punya cukup ruang untuk menyampaikan apa yang ia rasakan. Selama kita terus merasa cukup dengan penjelasan yang sederhana, tragedi semacam ini akan selalu tampak jauh dan kasuistik—sampai suatu hari ia hadir di sekitar kita sendiri, dalam bentuk yang mungkin sama pahitnya.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id