
Ketika cahaya pertama menyentuh jalan setapak, Endō Moritō berhenti. Di tangannya ada pedang. Di tanah, beberapa langkah di depannya, sesuatu terbungkus kain. Moritō berlutut. Tangannya gemetar ketika ia membuka kain itu. Rambut hitam menjuntai dari balik lipatan. Kemudian wajah itu terlihat. Moritō tidak bergerak. Seolah seluruh dunia berhenti bersamanya.
“Kesa…”
Nama itu keluar begitu pelan, hampir seperti desah. Ia menyentuh pipi perempuan itu. Masih hangat. Tetapi tidak lagi hidup. Moritō menarik tangannya. Pedangnya terlepas dan jatuh ke tanah dengan bunyi pendek. Baru saat itu ia mengerti. Perempuan yang ingin dibawanya pergi telah mati. Dan tangannya sendiri yang membunuhnya.
Beberapa jam sebelumnya, Kesa duduk di depan cermin. Lampu minyak bergoyang ditiup angin dari celah jendela. Bayangan wajahnya bergerak-gerak di dinding. Di luar kamar, Wataru telah tidur. Napas suaminya terdengar teratur. Kesa mengambil gunting. Rambutnya yang panjang ia tarik ke depan bahu, lalu ia potong. Suara gunting terdengar pelan. Sekali. Dua kali. Sehelai rambut jatuh ke pangkuannya. Ia memandangnya sebentar, kemudian membiarkannya jatuh ke lantai. Tidak ada tangis. Tidak ada doa. Hanya suara gunting dan napasnya sendiri.
Ketika rambutnya selesai dipotong, Kesa berdiri. Ia berjalan ke kamar suaminya. Wataru masih tidur. Kesa duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat ia hanya memandang wajah lelaki itu. Tangannya terangkat, menyentuh kening Wataru, lalu rambutnya.
“Maaf.”
Wataru tidak bergerak. Kesa menunduk. Ia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi tidak ada kata yang terasa cukup. Ia bangkit. Malam menunggunya.
Moritō telah lama mengejarnya. Pertama dengan tatapan, kemudian dengan kata-kata, lalu dengan ancaman.
“Aku mencintaimu.”
Kesa selalu menjawab dengan kalimat yang sama.
“Aku sudah bersuami.”
Namun Moritō tidak mendengar. Baginya, cinta adalah sesuatu yang harus dimiliki. Ketika penolakan Kesa tidak lagi cukup untuk menghentikannya, ia berkata, “Aku akan membunuh Wataru.”
Kesa menatapnya lama. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya sesuatu yang perlahan menjadi pasti.
“Kalau begitu,” katanya, “datanglah malam itu.”
Moritō menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Bunuh dia.”
Kesa memberitahu kapan Wataru tidur. Ia memberitahu letak kamar. Ia mengatakan bahwa rambut Wataru akan basah setelah mandi malam.
“Dalam gelap, kau tidak akan sulit mengenalinya.”
Moritō percaya. Ia tidak tahu bahwa Kesa sedang menyiapkan tempat bagi dirinya sendiri.
Malam semakin larut. Angin berhenti. Rumah itu tenggelam dalam gelap. Wataru tertidur. Kesa kembali ke kamarnya. Ia berbaring di tempat yang biasa ditempati suaminya. Rambutnya yang telah dipotong dibasahi. Ia menutup mata. Untuk pertama kalinya malam itu, napasnya berubah, cepat dan pendek. Tangannya menggenggam ujung selimut. Ia mendengar suara di luar, samar. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya.
“Moritō.” Ucapnya lirih.
Kesa membuka mata. Pintu bergerak perlahan. Bayangan seorang lelaki masuk ke dalam kamar. Moritō. Ia menggenggam pedang. Tidak ada cahaya cukup untuk melihat wajah. Ia mendekat. Kesa diam. Moritō mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh rambut yang basah. Ia berhenti. Sesuai yang dikatakan Kesa.
Wataru. Pedang terangkat. Dalam sepersekian detik, Kesa melihat kilatan baja. Ia bisa berteriak. Ia bisa bangun. Ia bisa menyebut namanya. Tetapi ia tidak melakukan apa-apa. Matanya tertutup. Pedang turun. Satu tebasan. Kemudian sunyi.
Moritō pergi tanpa menoleh. Ia membawa keyakinan bahwa malam itu telah mengubah hidupnya. Ia tidak tahu bahwa hidupnya justru telah berakhir. Ketika pagi mulai datang, ia membuka kain yang membungkus kepala yang dibawanya. Kemudian ia melihat wajah Kesa.
Tidak ada dunia setelah itu. Hanya suara yang tidak lagi terdengar, hanya tangan yang tidak lagi bisa disentuh, dan hanya satu pertanyaan yang tidak akan pernah mendapat jawaban. Mengapa?
Moritō berlutut.
“Kesa.”
Ia menyebut nama itu lagi, kali ini lebih keras. Tidak ada jawaban.
Wataru menemukan istrinya ketika matahari telah naik. Rumah itu penuh orang. Namun bagi Wataru, semuanya seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh. Ia berdiri di hadapan tubuh Kesa. Tidak menangis. Tidak berteriak. Tangannya hanya menggenggam sesuatu yang ditemukan di dekat tempat tidur. Sehelai rambut. Pendek. Kesa.
Wataru mengerti. Ia mengerti apa yang telah dilakukan istrinya. Dan mungkin, pada saat itu, ia juga mengerti bahwa perempuan yang dicintainya telah memilih mati agar dirinya tetap hidup.
Moritō kemudian datang. Ia tidak membawa pedang. Ia tidak meminta pengampunan. Ia hanya berdiri di hadapan Wataru.
“Bunuh aku.”
Wataru memandangnya lama.
“Untuk apa?” Moritō tidak menjawab.
“Kesa sudah mati,” kata Wataru.
“Kalau kau mati, apakah dia akan kembali?”
Moritō menunduk. Tidak. Tidak akan pernah.
Wataru berbalik.
“Pergilah.”
Itulah hukuman yang diberikan kepadanya. Bukan kematian. Kehidupan.
Moritō meninggalkan pedangnya. Ia mencukur rambut. Nama Endō Moritō perlahan ditinggalkannya. Ia menjadi Mongaku. Ia pergi ke pegunungan. Di bawah air terjun, ia berdiri berhari-hari. Air menghantam kepalanya. Tubuhnya menggigil. Musim berganti. Tetapi wajah Kesa tidak pernah pergi.
Suatu malam, setelah bertahun-tahun, Mongaku duduk seorang diri di tepi sungai. Air mengalir di antara batu. Ia mengambil segenggam air, memandangnya, kemudian membiarkannya jatuh kembali. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menghukum dirinya sendiri. Ia hanya duduk. Mengingat Kesa, malam itu, pedang, dan rambut basah.
Ia akhirnya mengerti sesuatu yang sederhana. Kesa tidak pernah menjadi miliknya. Tidak ketika ia hidup. Tidak pula ketika ia mati. Bahkan kenangan tentangnya pun bukan miliknya. Ia hanya seseorang yang pernah lewat dalam hidupnya. Dan ia telah menghancurkan hidup itu karena mengira cinta memberinya hak untuk memiliki.
Mongaku menundukkan kepala. Angin melewati pepohonan. Tidak ada suara lain. Bertahun-tahun kemudian, orang-orang mengenal Mongaku sebagai seorang pertapa. Mereka mengenal keteguhannya. Mereka mengenal pertobatannya. Mereka mengenal lelaki yang meninggalkan kehidupan duniawi dan memilih jalan agama. Tidak banyak yang tahu tentang Endō Moritō. Tidak banyak yang tahu tentang seorang perempuan bernama Kesa.
Tetapi pada malam-malam tertentu, ketika angin bergerak pelan di antara pepohonan gunung, Mongaku masih terbangun dari tidurnya. Ia tidak pernah mendengar suara Kesa. Ia hanya mendengar suara gunting. Sekali. Dua kali. Lalu suara pedang yang jatuh. Dan setelah itu—sunyi.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah mampu membedakan mana yang lebih menyakitkan: kematian Kesa, atau kenyataan bahwa sebelum mati, perempuan itu masih sempat memilih untuk tidak membencinya.
