Ketika Desa Mengubah Sampah Menjadi Daya Hidup: Kisah Tunggulrejo Membangun Kemandirian dari Potensi Lokal

Foto: Kepala Desa Tunggulrejo, Parno, S.Pd, M.H

KOPIPAHIT.ID – Tidak banyak desa yang melihat sampah sebagai peluang. Kebanyakan menganggapnya sebagai persoalan yang harus segera dibuang agar tidak mengganggu lingkungan.

Namun Desa Tunggulrejo, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar memilih jalan berbeda: mengolah sampah menjadi bagian dari kekuatan ekonomi desa.

Bersama pertanian, pasar desa, dan agrowisata, desa ini membangun kemandirian dengan mengandalkan potensi yang tumbuh dari lingkungannya sendiri.

Bagi Pemerintah Desa Tunggulrejo, pembangunan desa bukan sekadar membangun fasilitas fisik atau menjalankan program tahunan.

Lebih dari itu, pembangunan dimaknai sebagai upaya menghubungkan potensi-potensi yang dimiliki desa agar saling menopang dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Saat ditemui di kawasan Destinasi Agrowisata Telaga Kusuma, Kepala Desa Tunggulrejo, Parno, S.Pd., M.H., menjelaskan bahwa pertanian tetap menjadi potensi utama desa.

Namun pertanian tidak diposisikan sebagai sektor tunggal, melainkan dikembangkan menjadi bagian dari sistem ekonomi yang lebih luas.

“Potensi utama desa kami adalah pertanian. Tapi dari pertanian itu kami kembangkan menjadi produk ekonomi lain seperti pasar desa, wisata berbasis agrowisata, dan pengelolaan sampah yang mendukung pertanian kembali,” ujarnya.

Dari pemikiran itu, Desa Tunggulrejo mulai membangun sistem ekonomi desa yang terintegrasi. Hasil pertanian warga dipasarkan melalui pasar desa, sampah organik dari rumah tangga dan pasar diolah menjadi kompos, kompos digunakan kembali untuk mendukung usaha pertanian, lalu hasilnya kembali dipasarkan di pasar desa maupun kawasan wisata.

Tunggulrejo Membangun Kemandirian dari Potensi Lokal

Siklus ini menjadi fondasi ekonomi sirkular desa: sebuah sistem yang membuat potensi lokal terus berputar dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Untuk mendukung sistem tersebut, pada 2021 pemerintah desa membangun pasar desa dengan 55 kios dan 80 los. Pasar ini menjadi ruang penting bagi warga untuk memasarkan hasil pertanian sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi desa.

Tidak berhenti di situ, desa juga mengembangkan Telaga Kusuma, kawasan wisata berbasis agrowisata yang kini menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

“Telaga Kusuma bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Parno.

Di kawasan wisata itu, produk-produk pertanian dan hasil UMKM warga dipasarkan secara langsung kepada pengunjung. Dengan begitu, wisata tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi desa.

Namun langkah yang paling menarik justru terletak pada cara Desa Tunggulrejo mengelola sampah rumah tangga.

Ketika banyak wilayah masih menjadikan sampah sebagai beban lingkungan, Tunggulrejo mulai melihat sampah sebagai sumber daya yang bisa memberi manfaat ekonomi. Melalui TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan bank sampah berbasis RT, desa membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Dari total 46 RT, saat ini telah terbentuk 30 bank sampah, dan jumlah itu ditargetkan bertambah menjadi 40 bank sampah dalam waktu dekat.

Melalui sistem tersebut, desa saat ini mampu mengelola 4 hingga 5 ton sampah plastik per tahun, dengan target meningkat menjadi 10 hingga 15 ton per tahun.

“Pengelolaan sampah ini bukan hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga memberi nilai ekonomi dan membuka lapangan kerja,” jelas Parno.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan cara pandang yang cukup mendasar. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah, kini diposisikan sebagai bagian dari potensi desa.

Sampah organik diolah menjadi kompos untuk mendukung pertanian, sementara sampah anorganik dipilah melalui bank sampah agar memiliki nilai jual.

Dari sistem itu, manfaat mulai dirasakan warga. Lingkungan desa menjadi lebih bersih, kebiasaan membuang sampah sembarangan berkurang, dan peluang ekonomi baru mulai tumbuh.

Di sektor wisata, lebih dari 40 tenaga kerja lokal kini terserap. Sementara unit usaha desa yang dikelola BUMDes mampu memberi kontribusi sekitar Rp300 juta per tahun bagi pendapatan desa.

Pendapatan tersebut kemudian digunakan kembali untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat, sehingga manfaat ekonomi tidak berhenti pada unit usaha desa saja, tetapi kembali dirasakan warga.

Bagi Parno, keberhasilan itu bukan semata karena desa memiliki potensi, melainkan karena adanya keberanian untuk mengelola potensi tersebut dengan serius dan berkelanjutan.

“Semua desa punya potensi. Yang membedakan adalah bagaimana potensi itu dikelola, dipasarkan, dan mampu memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pembangunan desa sejatinya tidak selalu bergantung pada besarnya sumber daya, tetapi pada kemampuan desa melihat peluang dari apa yang dimiliki.

Di tengah banyak program pembangunan yang sering berhenti pada proyek fisik, Tunggulrejo mencoba membangun sesuatu yang lebih mendasar: sistem yang menghubungkan pertanian, pasar, wisata, dan pengelolaan sampah dalam satu ekosistem desa. Dari situlah kemandirian perlahan tumbuh.

Keberhasilan Desa Tunggulrejo menunjukkan bahwa ketika potensi lokal dikelola dengan visi yang jelas, desa tidak hanya mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, tetapi juga membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dari kekuatan yang dimilikinya sendiri.

Pada akhirnya, yang dibangun Tunggulrejo bukan sekadar pasar desa, tempat wisata, atau bank sampah. Yang sedang dibangun adalah keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri—mengubah persoalan menjadi peluang, dan mengubah potensi menjadi daya hidup bagi warganya.

*) Ditulis oleh: Heriyosh