Foto Desi Apriyani adalah seorang Jurnalis

KOPIPAHIT.ID – Delapan puluh satu tahun. Cukup lama bagi sebuah bangsa untuk tumbuh dan mengaku dewasa. Namun, mengapa setiap kali tanggal 17 Agustus tiba, yang kita rayakan justru terasa seperti mengulang luka yang sama?

Bendera dikibarkan setinggi-tingginya, pidato menggema lantang tentang kemerdekaan, lomba panjat pinang riuh meriah. Namun, saat malam tiba, dapur tetap gelap karena harga minyak kembali naik.

Inilah yang saya sebut: Kemerdekaan Ilusi.

Negara ini terlihat terlalu tangguh untuk dikalahkan. Bukan karena kekuatannya yang mahadahsyat, melainkan karena rakyatnya terbiasa menahan segala beban. Kita terlalu ikhlas menerima kenyataan. Bukan karena tak paham, melainkan karena lelah. Lelah melawan sistem yang setiap kali dikritik, justru kepala rakyat sendirilah yang memerah menahan pedih.

Kita diajarkan untuk terus bersyukur hingga lupa cara mempertanyakan apa yang sesungguhnya keliru.

Kita seolah dipaksa mandiri sejak masih dalam kandungan. Belum lahir, ibu sudah memikirkan biaya persalinan yang kian memberatkan. Baru masuk sekolah dasar, anak sudah ditanya, “Nanti dewasa mau kerja apa?”

Baru saja lulus kuliah, tinta di atas ijazah belum kering, kita sudah diusir ke dunia luar: “Cari pekerjaan, jangan jadi beban negara.”

Negara ini mencetak manusia-manusia yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Bukan karena hebat, melainkan karena tak ada jaring pengaman yang siap menampung saat jatuh.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan kita?

Pendidikan kita perlahan tak lagi bernyawa.

Gedung-gedungnya makin megah, seragamnya rapi dan seragam, kurikulumnya berganti setiap kali menteri berganti. Namun, ruhnya perlahan mati. Sekolah tak lagi melahirkan para pemikir yang kritis, melainkan sekadar melahirkan para penurut yang siap menjadi tenaga kerja.

Anak diajarkan menghafal, bukan memahami. Diajarkan patuh tanpa tanya, bukan berpikir secara kritis. Guru pun disibukkan dengan puluhan laporan administrasi, bukan duduk berdiskusi untuk membuka wawasan.

Hasilnya? Generasi yang pintar menjawab soal pilihan ganda, namun bungkam saat dihadapkan pada persoalan bangsa.

Kita bangga dengan peringkat dan prestasi yang diraih, namun lupa bertanya: untuk apa peringkat setinggi itu jika nalar berpikir kita justru dipasung?

Dan yang lebih berbahaya lagi: pikiran kita perlahan dibungkam oleh ancaman.

Ancaman halus yang ternyata lebih tajam daripada ujung bedil.

“Jangan mengkritik, nanti dicap pemberontak.”

“Jangan berbeda pendapat, nanti diserang di ruang publik.”

“Jangan bersuara, nanti susah mencari nafkah.”

Lama-kelamaan kita belajar untuk diam.

Dosen takut meneliti hal-hal yang dianggap sensitif. Jurnalis takut menulis kebenaran yang menyakitkan pihak berkuasa. Mahasiswa takut turun ke jalan menyuarakan hati. Bapak-bapak di warung pun takut bersuara lantang.

Yang terdengar paling keras akhirnya hanya suara-suara yang dibayar dan rasa takut yang kian membesar.

Negara ini merdeka di atas kertas, namun pikiran rakyatnya masih terjajah.

Belum lagi soal penghargaan. Tak ada penghormatan yang layak bagi mereka yang membawa nama bangsa harum ke luar negeri. Atlet yang berjuang hingga meraih medali emas pun baru diundang dan diberi penghargaan setelah namanya dikenal dunia.

Bagaimana dengan guru, perawat, peneliti, seniman, dan ribuan pekerja yang mengabdi puluhan tahun tanpa sorotan lampu kamera?

Mereka pensiun hanya dengan ucapan terima kasih yang terucap sepintas.

Yang viral di media sosial dipuja-puja. Yang bekerja diam-diam dan berjasa sesungguhnya justru dilupakan.

Sungguh ironis. Kita memamerkan kehebatan bangsa ke luar negeri, namun di dalam negeri sendiri kita menelantarkan orang-orang yang menjaganya.

Puncak dari segala hal ini adalah kemiskinan yang seolah dilembagakan.

Kita dipaksa menahan lapar hari demi hari. Bukan karena tanah ini tak menumbuhkan padi, bukan karena laut tak memberi ikan. Melainkan karena harga kebutuhan lebih tinggi dari kemampuan rakyat membelinya.

Ibu rela menahan makan agar anaknya kenyang. Ayah rela bekerja hingga punggungnya bungkuk demi sesuap nasi. Anak rela berbohong dan berkata, “Sudah kenyang,” agar orang tuanya tak bersedih.

Kelaparan kini menjadi hal yang lumrah, seolah kemiskinan adalah takdir Tuhan yang harus diterima dengan pasrah dan ikhlas.

Dan yang paling menyakitkan dari semuanya: kita perlahan dirampas segala yang kita miliki.

Tanah leluhur dirampas atas nama pembangunan dan investasi. Laut yang menjadi sumber kehidupan dibatasi atas nama pengembangan. Waktu istirahat pun dirampas atas nama lembur dan masa depan yang dijanjikan.

Bahkan suara hati pun dirampas atas nama ketertiban dan stabilitas.

Hingga pada akhirnya, yang tersisa hanyalah tulang yang rapuh, nama yang tak berarti, dan kata “merdeka” yang kita teriakkan setahun sekali dengan penuh haru.

Jika inilah yang disebut kemerdekaan, maka kemerdekaan macam apa ini?

Merdeka di atas tiang bendera, namun terjajah di dapur rumah sendiri.

Merdeka di dalam pasal-pasal undang-undang, namun terjajah di ruang kelas dan di meja kerja.

Merdeka dalam pidato-pidato yang bergema, namun terjajah di dalam pikiran sendiri.

Saya menulis tulisan ini bukan karena membenci negeri. Justru karena saya mencintainya.

Orang yang paling marah pada ketidakadilan adalah orang yang paling berharap pada perubahan.

Dan selama masih ada satu kepala yang berani berpikir secara mandiri, satu hati yang menolak menyerah pada keadaan, maka ilusi kemerdekaan ini belum menang.

Kemerdekaan yang sesungguhnya belum datang sepenuhnya. Namun, kitalah yang harus menjemputnya.

Bukan dengan bambu runcing dan senjata api seperti pahlawan masa lalu, melainkan dengan kesadaran berpikir yang jernih, keberanian bersuara, dan tekad untuk tak lagi pasrah pada ketidakbenaran.

                         ***

*) Oleh : Desi Apriyani, Jurnalis

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi Kopipahit.id

Leave a Reply

☕ Silakan berkomentar dengan nalar jernih. Kami menyukai pendapat tajam, bukan serangan personal. Kritik boleh pahit, asal tetap berisi.