Ketika Bayang-bayang Libya Menghantui Caracas

Ilustrasi by kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Di Karibia, gelombang panas politik kembali naik. Amerika Serikat memperketat manuver militernya di sekitar Venezuela, mengerahkan kapal perang, jet tempur, bahkan kapal selam nuklir. Situasi ini dicatat lembaga analisis geopolitik ANKASAM, yang pada Agustus 2025 melaporkan peningkatan drastis aktivitas militer AS dengan dalih “operasi melawan kartel narkoba” (sumber: ANKASAM, The Increasing Military Tension Between the U.S. and Venezuela, 2025).

Tekanan ini bukan hanya bergerak lewat laras senjata. Tekanan ekonomi dan diplomatik juga berjalan paralel. Dalam laporan Sputnik International tanggal 2 Desember 2025, ahli geopolitik mengatakan bahwa AS bahkan mempertimbangkan penutupan ruang udara Venezuela dan penyitaan aset luar negeri negara tersebut — langkah yang secara strategis menarget langsung PDVSA, perusahaan minyak yang menjadi nadi ekonomi Caracas (sumber: Sputnik Globe, 2/12/2025).

Di permukaan, semuanya tampak seperti persiapan menuju intervensi. Seperti mengulang sejarah yang pernah jatuh di Libya tahun 2011.

Namun berbagai analisis asing menilai bahwa skenario “Libya kedua” tidak sesederhana itu.

Dalam wawancara yang sama, analis politik yang dikutip oleh Sputnik menyebutkan alasan pertama: Venezuela tidak memiliki oposisi bersenjata besar yang siap dimobilisasi. Libya runtuh karena NATO memiliki tumpuan di dalam negeri — kelompok bersenjata yang sudah eksis, siap dilatih, siap dibiayai, dan siap bergerak. Venezuela tidak punya struktur seperti itu, sehingga intervensi “cepat dan bersih” ala Libya hampir mustahil terjadi (sumber: Sputnik Globe, 2/12/2025).

Faktor kedua: ketahanan internal.
Menurut analis yang sama, Venezuela sekarang mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pangan domestik. Ini penting, karena tekanan ekonomi hanya efektif menggoyang negara yang sepenuhnya bergantung pada impor makanan. Libya kala itu rapuh di sektor ini. Venezuela tidak (sumber: Sputnik Globe, analisis pangan, 2025).

Faktor ketiga: dukungan internasional.
Dalam laporan ABC News Australia, disebutkan bahwa Rusia dan China terus memperkuat hubungan strategis dengan Caracas — sebuah dukungan politik, diplomatik, dan ekonomi yang membuat Venezuela tidak mungkin terisolasi sepenuhnya seperti Libya pada 2011. Rusia dan China, dengan pengaruh globalnya, menjadi benteng yang membuat skenario “negara runtuh” menjadi sangat mahal bagi AS (sumber: ABC News, 2/12/2025).

Dari sisi internal, respons Caracas pun tidak mengecil. Presiden Nicolás Maduro, dalam pernyataan yang dikutip The Guardian, menolak narasi bahwa Venezuela akan menjadi Afghanistan atau Libya baru. Ia meminta AS “menghindari perang yang panjang dan sia-sia,” sembari menegaskan bahwa rakyat Venezuela tidak akan tunduk pada tekanan eksternal (sumber: The Guardian, 14/11/2025).

Maduro sebelumnya juga menegaskan bahwa “AS tidak akan dapat memasuki Venezuela” — pernyataan itu dicatat ulang dalam rilis resmi yang diberitakan oleh sejumlah kantor internasional, memperlihatkan sikap defensif sekaligus percaya diri bahwa negeri itu masih memiliki ruang manuver di tengah tekanan global.

Sikap ini bukan hanya pidato politik — dalam sejarah panjang Amerika Latin, ancaman eksternal sering kali menjadi pemicu konsolidasi internal.

Jadi, apakah AS benar-benar bisa menjadikan Venezuela seperti Libya?

Analisis internasional menunjukkan gambaran yang jauh lebih rumit.
Ada tekanan militer. Ada tekanan ekonomi. Ada operasi intelijen yang tidak terlihat.

Namun struktur internal Venezuela, ditambah dukungan Rusia dan China, membuat kalkulasi strategis AS menjadi jauh lebih rumit dibandingkan skenario Libya 2011.

Seperti ditulis Sputnik: “Venezuela bukan Libya. Kondisinya berbeda. Struktur kekuatannya berbeda. Dan dukungan eksternalnya berbeda.”
(Sputnik Globe, 2/12/2025)

Pada akhirnya, Venezuela mungkin akan tetap babak belur oleh tekanan — tetapi menjadi “Libya kedua” bukanlah takdir yang mudah diulang. Sejarah tidak selalu mengizinkan skenario sama direplikasi di dua tempat yang berbeda.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id