Kebakaran Apartemen Hong Kong: 108 WNI Selamat, 22 Hilang — Di Antara Asap, Ada Nama-Nama yang Belum Pulang

Foto ilustrasi kebakaran apartemen komplek Wang Fuk Court, Tai Po, Hongkong

KOPIPAHIT.ID – Kebakaran hebat yang melalap tujuh menara apartemen di kompleks Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, menyisakan cerita getir bagi ratusan pekerja migran — termasuk warga negara Indonesia yang tinggal dan bekerja di kota padat itu.

Kementerian Luar Negeri RI memastikan 108 WNI selamat, sementara 22 lainnya masih hilang tanpa kabar. Mereka—yang sehari-hari menjadi nadi rumah-rumah majikan—tiba-tiba menjadi bagian dari statistik yang dingin, menyisakan kecemasan bagi keluarga di kampung halaman yang menunggu dering telepon.

Asap Tebal, Alarm Tak Berbunyi

Kebakaran terjadi saat kompleks sedang direnovasi. Para penghuni mengaku tidak mendengar alarm kebakaran. Sebaliknya, nyawa diselamatkan oleh kepanikan: pintu diketuk, teriakan memecah koridor, dan langkah-langkah tergesa memburu tangga darurat.

Di luar gedung, api menjalar cepat melalui perancah bambu berbalut jaring plastik—kombinasi yang belakangan disorot sebagai pemicu meluasnya kobaran. Material renovasi disebut mudah terbakar, membuat gedung itu berubah menjadi cerobong raksasa yang menghisap ratusan jiwa.

Identifikasi Berjalan, Nama Korban Belum Dirilis

Hingga kini, pemerintah belum merilis nama-nama WNI yang meninggal. Identifikasi jenazah berjalan lambat, sebagian membutuhkan verifikasi DNA. KJRI Hong Kong membentuk tim koordinasi keluarga, memastikan proses pemulangan jenazah berlangsung hormat dan tepat.

Namun di kampung halaman para pekerja, keheningan informasi terasa lebih mencekik dari asap kebakaran itu sendiri.

Pemerintah Hong Kong Digempur Kritik

Di Hong Kong, gelombang kritik mengalir deras. Pemerintah setempat memerintahkan penyelidikan independen, sementara kontraktor dan konsultan proyek renovasi sudah diamankan karena dugaan kelalaian yang berkontribusi pada skala tragedi.

Kematian massal ini bukan sekadar musibah—ia membuka tirai tentang keamanan hunian murah di kota metropolis, tempat pekerja migran sering menjadi penghuni lapis terbawah.

Sebuah Luka yang Menyebrang Batas Negara

Kebakaran Wang Fuk Court bukan hanya duka Hong Kong. Ia adalah duka lintas negara. Di satu sisi, kota maju itu mengajarkan disiplin dan efisiensi; di sisi lain, tragedi ini mengingatkan bahwa keselamatan pekerja migran sering kali hanya sekuat selembar plastik yang mudah terbakar.

Di antara angka-angka, ada kehidupan yang hilang. Di antara asap yang memutih, ada nama-nama yang belum pulang.

Kita menunggu, bersama keluarga di sepanjang Nusantara, kabar yang pasti — sambil berharap bahwa tragedi ini tidak berakhir pada pengumuman formal dan karangan bunga belaka, tetapi menjadi alarm bagi negara untuk menjaga warganya di manapun berada.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id