
KOPIPAHIT.ID – Seperti biasa, sebelum sholat Jum’at dimulai, takmir masjid berdiri di mimbar menyampaikan laporan kas keuangan masjid kepada para jamaah.
Sudah bisa ditebak bahwa kas masjid minus, atau setidaknya tinggal sedikit, sementara program revitalisasi masjid membutuhkan dana yang tak kecil jumlahnya.
Sejak masjid berdiri, seakan persoalan kekurangan dana menjadi sinetron panjang yang tak pernah tamat dan selalu atas nama pembangunan fisik yang tak kunjung selesai.
Mbok yo sekali-kali takmir masjid menyampaikan kabar duka yang jauh lebih penting bahwa di Sumatra Barat, Sumut, dan Aceh, ada saudara-saudara kita, sedang dilanda bencana besar.
Tanah longsor, banjir bandang, rumah hancur, korban jiwa berjatuhan, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Mereka sedang memerlukan uluran tangan, doa, dan pertolongan kita semua.
Akan sangat mulia bila takmir berkata
“Sholat Jum’at hari ini seluruh infak dan sedekah para jamaah akan kita sumbangkan untuk korban bencana” Tapi suara itu tidak pernah terdengar sampai akhir sholat jum’at.
Fenomena ini menggambarkan kenyataan pahit. Bisa jadi keberadaan ribuan masjid di Indonesia kini pada umumnya lebih sibuk mempercantik bangunan, mengejar kemegahan kubah, menambah ornamen, memasang AC. Kas masjid dari jamaah dilaporkan hanya berputar-putar di sekitar bangunan fisik.
Keberadaan masjid seharusnya tidak abai pada realitas sosial di luar sana yang sedang menjerit, menangis, dan berharap bantuan. Jika pola pikirnya hanya soal pembangunan fisik, maka kas masjid tidak akan pernah cukup akan selalu merasa kurang.
Dan sebesar apapun bangunan masjid jika jamaahnya tidak dididik pada kepekaan sosial maka yang dibangun hanyalah tembok bukan umat. Betapa banyak masjid megah berdiri, dengan ruang ber-AC, lantai marmer, sound system puluhan juta, tetapi jamaahnya hanya setengah shaf.
Masjid seharusnya menjadi sentra dzikir sosial. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga tempat berbagi. Masjid bukan hanya rumah Allah, tetapi rumah harapan bagi yang sedang tertimpa musibah.
Penulis: Ahmad Basri (K3PP Tubaba)
Editor : Redaksi Kopipahit.id
