
KOPIPAHIT.ID — Slogan nasionalisme “NKRI Harga Mati – Pancasila Harga Mati” apakah masih relevan hari ini ?
Dulu kata-kata itu begitu “sakral” bak kitab suci. Seolah-olah bangsa ini berdiri tegak dengan nasionalisme yang tinggi dan kedaulatan yang kokoh.
Kenyataan di lapangan justru terbalik. Slogan itu terdengar seperti omong kosong. Seperti debu yang terbang menghilang terbawa angin.
Kasus terbaru tentang bandara udara di Morowali, Sulawesi Tengah adalah bukti paling telanjang dan masih banyak lagi kasus lainnya jika ditelisik lebih dalam.
Di negeri yang katanya berdaulat fasilitas udara yang seharusnya bagian dari keamanan negara ternyata berada dalam kendali kekuasaan asing.
Negara seolah baru “kaget” ketika publik mengetahuinya itupun dari pernyataan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin.
Apa arti nasionalisme kalau hal seperti itu bisa terjadi begitu mudah ? Apa gunanya bicara cinta tanah air jika aset strategis saja tak mampu dijaga ?
Ironis, kita selalu membanggakan kekayaan alam yang melimpah. Faktanya apa yang sesungguhnya masih kita miliki ?
Nikel, batubara, smelter, kebun, energi, semuanya seperti sudah tergadaikan. Aneh tapi nyata kita hanya menjadi penonton dari kekayaan kita sendiri.
Asing, Aseng, Asiong. Mereka yang datang membawa modal dan kita yang menyerahkan tanah, udara, dan sumber daya. Karpet merah untuk mereka.
Nasionalisme akhirnya tak lebih dari slogan kosong. Hanya tunduk pada kepentingan modal asing yang dibungkus atas nama investasi.
Sampai kapan bangsa ini terus menipu dirinya sendiri dengan kalimat-kalimat nasionalisme cinta tanah air yang tak pernah bisa dibuktikan ?
Kedaulatan negara saja tak bisa dipertahankan maka nasionalisme hanyalah cerita basa-basi yang diulang-ulang tanpa makna.
Oleh : Ahmad Basri (K3PP)
