
KOPIPAHIT.ID – Menutup tahun 2025, negara terlihat sibuk merapikan narasi resmi, angka-angka keberhasilan, dan etalase optimisme. Semuanya tampak baik-baik saja. Namun di balik itu, demokrasi justru belajar menahan napas. Sebab bagi sebagian warga negara—aktivis, jurnalis, penggerak komunitas—bersuara kini bukan lagi soal keberanian, melainkan soal kesiapan menerima teror.
Teror pun tak lagi perlu wajah garang atau senjata laras panjang. Ia cukup hadir dalam plastik hitam berisi bangkai ayam, pesan singkat bernada ancaman, atau botol berisi bensin yang menyala di malam hari. Murah, sederhana, dan efektif. Pesannya jelas: silakan bicara, asal tahu risikonya.
Kasus yang menimpa Iqbal Damanik dari Greenpeace Indonesia memperlihatkan itu dengan telanjang. Setelah menyampaikan kritik atas penanganan banjir dan longsor di Sumatera–Aceh, rumahnya diteror kiriman bangkai ayam, lengkap dengan ancaman terhadap keluarga.
Tidak ada bantahan berbasis data. Tidak ada dialog kebijakan. Yang datang justru simbol kematian—seolah ingin mengatakan bahwa analisis lingkungan kalah oleh intimidasi murahan.
Dan ini bukan cerita tunggal. Sherly Annavita, yang menyuarakan kritik dari Aceh, harus menghadapi vandalisme dan serangan digital. DJ Donny, yang menuntut keadilan bagi korban bencana, menerima balasan yang lebih literal: bom molotov. Barangkali inilah format baru diskusi publik di negeri ini—ketika argumen tak dijawab, properti yang dibakar.
Semua itu terjadi di tengah narasi besar tentang stabilitas dan kemajuan. Di podium-podium resmi, negara berbicara soal ketangguhan menghadapi bencana. Di lapangan, mereka yang bertanya mengapa bencana terus berulang justru diteror. Seolah problem utamanya bukan banjir, longsor, atau deforestasi, melainkan keberanian untuk menyebut sebabnya.
Jurnalis pun berada di barisan yang sama. Peliputan bencana di Aceh dilaporkan tak lepas dari intimidasi. Di tingkat nasional, redaksi media menerima paket berisi bangkai hewan—simbol klasik yang selalu muncul ketika kekuasaan kehabisan kata. Dalam demokrasi yang sehat, pers adalah penyangga. Dalam demokrasi yang gugup, pers dianggap gangguan.
Yang paling mencemaskan bukan hanya terornya, tetapi sikap negara yang nyaris tanpa ekspresi. Tidak tergesa mengusut. Tidak lantang melindungi. Diam yang panjang ini terasa akrab, nyaris resmi. Dalam urusan teror, diam semacam itu jarang netral. Ia lebih sering dibaca sebagai izin tak tertulis.
Pelan-pelan, teror bekerja seperti sensor alami. Aktivis mulai menimbang kalimat. Jurnalis menghitung risiko. Warga belajar diam. Demokrasi tetap berjalan, tentu saja—tetapi dengan volume yang dipelankan. Tertib, aman, dan jinak. Mungkin inilah stabilitas yang dimaksud: publik patuh, kritik sopan, dan rasa takut yang tak perlu diumumkan.
Padahal, bencana di Sumatera dan Aceh semestinya membuka ruang evaluasi serius tentang krisis ekologis dan kegagalan tata kelola. Namun yang muncul justru peringatan sunyi: alam boleh marah, asal manusia tidak terlalu banyak bertanya.
Menjelang tutup tahun, pertanyaannya sederhana: siapa sebenarnya yang mengganggu ketertiban? Mereka yang membawa data dan fakta, atau teror yang dibiarkan berjalan tanpa jejak?
Di negeri yang gemar menyebut dirinya demokratis, bangkai ayam dan molotov seharusnya menjadi barang bukti kejahatan, bukan bagian dari lanskap politik. Jika ini terus dinormalisasi, 2025 akan dikenang bukan sebagai tahun refleksi, melainkan sebagai tahun ketika ketakutan menemukan legitimasinya.
Barangkali beginilah cara negara menutup tahun: dengan meminta rakyat percaya bahwa semuanya baik-baik saja, sambil membiarkan bangkai ayam dikirim ke rumah aktivis dan molotov menyala di halaman warga. Kritik disebut gaduh, teror dianggap insiden.
Demokrasi tetap dipajang rapi, meski di belakangnya ketakutan dibiarkan mengintimidasi. Jika ini disebut kedewasaan berdemokrasi, mungkin yang dimaksud adalah kemampuan menelan ancaman sambil tetap tersenyum dan bertepuk tangan di penghujung tahun.
Kopi mungkin tetap pahit. Tapi demokrasi yang dipaksa menelan teror, cepat atau lambat, bukan lagi soal rasa—melainkan soal bertahan untuk tetap melawan.
Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
