
KOPIPAHIT.ID – Beberapa waktu lalu beredar di media sosial (medsos) sebuah video yang memperlihatkan ketegangan antara relawan bencana dan oknum petugas yang berpakaian ASN. Kejadian tersebut disebut-sebut terjadi di Sumatera Utara.
Relawan yang membawa bantuan ke kawasan bencana tidak dapat langsung menyalurkan bantuan ke titik pusat bencana. Bantuan tersebut harus di transitkan terlebih dahulu kepada petugas. Dan petugas itulah yang “konon” akan membawa barang bantuan ke lokasi.
Persoalan muncul ketika oknum petugas tersebut meminta tarif. Tidak tanggung-tanggung, 2,5 juta per satu truk barang. Karena relawan membawa dua truk, maka diminta 5 juta. Apa yang terjadi? Relawan marah dan memprotes keras tindakan oknum tersebut.
Sekelumit cerita di atas sejatinya merupakan refleksi bahwa dalam setiap bencana apapun bentuknya akan selalu ada pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Ini adalah fenomena klasik yang terus berulang di tengah penderitaan rakyat.
Betapa tidak, setiap bencana pasti melahirkan berbagai sumbangan atau bantuan dari banyak pihak. Solidaritas sosial muncul, baik dalam bentuk barang maupun uang.
Pertanyaannya, di tengah legitimasi moral pejabat publik yang kian minus kepercayaan, apakah seluruh bantuan yang disumbangkan masyarakat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan?
Kasus yang paling sering dan paling mudah diselewengkan adalah obat-obatan. Dalam setiap bencana, selain bahan makanan, obat-obatan menjadi kebutuhan utama. Ironisnya, justru obat-obatan pula yang kerap dijadikan “bisnis” oleh para oknum.
Banyak oknum yang membawa obat-obatan keluar dari kawasan bencana. Apalagi jika kemudian obat-obatan tersebut dijual murah ke tempat-tempat tertentu.
Kasus ditemukannya obat-obatan bantuan untuk korban tsunami Aceh, misalnya, pernah menggemparkan jagat nasional. Obat-obatan tersebut dikirim keluar Aceh untuk dijual ke daerah lain.
Betapa banyak oknum yang mendadak kaya dari perbuatan tersebut, termasuk para penampung obat-obatan bantuan. Mereka seperti mendapatkan durian runtuh di atas penderitaan orang lain.
Itulah sebabnya, hingga hari ini, banyak relawan bencana yang lebih memilih datang langsung dan menyalurkan bantuan ke lokasi bencana, daripada menyerahkannya kepada petugas.
Penulis : Ahmad Basri (K3PP)
Editor: Tim Kopipahit.id
