
KOPIPAHIT.ID – Minggu pagi di pekan keempat November biasanya punya ritme sendiri: ba’da Subuh, pak man—tetangga komplek yang mantan birokrat senior—sudah nongol di depan pagar, mengajak bersepeda keliling komplek. Rutinitas kecil yang entah sejak kapan jadi alarm tubuhku.
Tapi pagi ini sunyi. Pak man tak terlihat.
Tak enak perasaan, tapi aku menepis pikiran yang tidak-tidak. Kuambil saja sepeda hybrid tuaku dan tetap gowes seperti biasa. Meski begitu, tanda tanya kecil tetap menguntit seperti rantai sepeda yang butuh dilumasi: kok pak man nggak keluar? Beliau sakit? Atau kenapa?
Setelah beberapa putaran, rasa penasaranku menang. Kuputuskan memutar arah menuju rumah beliau. Tidak sampai tujuh menit, aku sudah berdiri di depan pagar rumah pak man. Meski masih pagi, sekitar rumahnya sudah ramai: tukang nasi uduk, bubur ayam, warung kopi, warung sayur—semua mulai menggeliat.
“Assalamualaikum, Pakde… Pakde…” seruku begitu masuk teras.
Dari dalam terdengar suara beratnya, “Lho… lho… sampean to, mas.”
Syukurlah, suaranya masih segar.
Kami duduk di gazebo. Tak lama, anak bungsu pak man keluar dengan kopi dan gorengan hangat.
“Ini kopi luwak Lampung Barat, mas,” kata pak man.
Kopi yang harusnya jadi pembuka pagi yang nikmat.

Tapi rupanya ada yang lebih pahit dari kopi luwak itu.
Dalam obrolan santai yang pelan-pelan berubah jadi nada getir, aku akhirnya tahu alasan beliau tak bersepeda: pak man sedang sedih, marah, dan kecewa berat. Bukan karena kesehatan. Bukan karena usia. Tapi karena salah satu dari 46 Kepala Sekolah yang ditipu program “revitalisasi sekolah” di Lampung Barat itu… adalah putra keduanya.
Kupandangi kopi yang baru setengah kuseruput. Rasanya langsung berubah: getir menanjak, macam berita yang tak bisa ditelan.
Matahari mulai meninggi. Aku pamit pulang.
Dan soal bagaimana anak pak man bisa ikut terseret dalam kisah penipuan yang lebih viral daripada kopi luwak Lampung Barat—tenang saja. Ceritanya belum selesai.
Nanti kita lanjutkan sambil ngopi lagi.
Reporter: J. Farhan
Editor: Redaksi Kopipahit.id
