
KOPIPAHIT.ID, Sukabumi – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki meresmikan tugu batas kota yang berlokasi di Jalan Letkol Eddie Soekardi Jalur Lingkar Selatan, dalam peringatan Hari Bakti Pekerjaan Umum yang diadakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi, bertempat di Gedung Widaria Kencana, Rabu (3/12/2025)
Dalam sambutannya Wali Kota Sukabumi menyampaikan bahwa tugu batas kota merupakan salah satu wujud komitmen untuk menghadirkan infrastruktur berkualitas di Kota Sukabumi.
Ayep menjelaskan, desain gapura bukan dibuat dari nol melainkan melanjutkan Detail Engineering Design (DED) yang telah disusun sekitar delapan tahun lalu, (tepatnya pada era kepemimpinan Wali Kota Achmad Fahmi). Desain tersebut mengusung filosofi tanaman pakujajar, flora identitas Kota Sukabumi.
“7–8 tahun yang lalu desain ini. Kita hanya menjalankan DED yang dikerjakan 8 tahun lalu. Filosofinya pakujajar karena pohon asli Kota Sukabumi adalah pakujajar,” ungkapnya.
Tugu Perbatasan dengan tinggi 8,5 meter dan bentangan 24 meter yang dibangun dalam 100 hari kerja menggunakan Anggaran Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp1,9 miliar ini dianggap tidak nyaman dan menuai protes warga setempat.
Keluhan tersebut dilontarkan Amor warga setempat yang menganggap lampu penerangan tugu tersebut membuat silau pengguna jalan juga warnanya ungu dianggap sebagai warna janda.
“Iya, bikin silau, trus warnanya keliatan ungu gitu, pan ungu teh warna janda,” komentarnya sambil tersenyum.
Senada dengan Amor, seorang warga yang enggan disebut namanya, juga menyoroti pemilihan warna lampu yang dinilai mengganggu kenyamanan visual.
”Pak, ini teh bikin pusing ke mata, Pak. Penglihatannya jadi ungu, enggak enak di mata. Lebih bagus kalau dikasih lampu di tengah-tengahnya warna putih, sepertinya tidak akan pusing ke mata (silau) begitu,” keluhnya
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi, Sony Hermanto, memberikan klarifikasi. Ia membantah tanggapan warga bahwa lampu yang dipasang berwarna ungu.
”Lampunya itu biru, bukan ungu. Sebetulnya kalau kita di rumah ada lampu di atas, kalau kita lihat terus pasti silau. Kita jangan melihat lampu atuh, biasa saja jalan. Ketika kita uji coba, ketika mengendara itu kita fokus saja di jalan, biasa saja enggak ada silaunya, secara logika gitu saja,” ujar Sony.
Sementara itu sejumlah praktisi lembaga swadaya masyarakat (LSM) menilai pembangunan tugu itu merupakan proyek ambisius sang wali kota di tengah efisiensi anggaran.
Menurut mereka Pembangunan tugu batas kota itu perlu diaudit oleh akuntan publik dan badan pemeriksa keuangan (BPK) serta Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP), mengingat besarnya anggaran yang tersedot.
Laporan : Jufala
Editor : KOPIPAHIT.ID
