Epy Kusnandar Berpulang: Dari Jagakarsa Menuju Jeruk Purut, “Kang Mus” Mengakhiri Lakon Hidupnya

Foto: Epy Kusnandar “Kang Mus”, meninggal dunia, Rabu (3/12/2025) diusia 61 tahun

KOPIPAHIT.ID — Rabu siang itu, pukul 14.24 WIB, lini masa tiba-tiba merapat seperti gelombang yang mendengar kabar buruk lebih cepat dari angin: Epy Kusnandar, aktor yang melekat dengan karakter Kang Mus dalam Preman Pensiun, meninggal dunia.

Dari unggahan keluarga yang sederhana, kabar itu membesar jadi duka nasional. Google merangsek penuh dengan pencarian tentang dirinya, seolah publik ingin memastikan apakah kabar itu benar—atau berharap itu cuma rumor yang salah alamat.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pagi ini, Kamis (4/12/2025), keluarga, kerabat dekat, dan sejumlah rekan seniman mengantarnya ke peristirahatan terakhir di TPU Jeruk Purut. Tidak ada hiruk-pikuk media di depan gerbang makam. Yang terdengar hanya doa, tangis tertahan, dan bisik-bisik bahwa salah satu aktor terbaik negeri ini telah benar-benar pergi.

Kondisi kesehatan Epy sempat dikabarkan menurun beberapa waktu belakangan, tetapi penyebab pasti meninggalnya tidak dijelaskan oleh keluarga. Yang jelas, publik terantuk pada kabar ini. Sejak sore kemarin, mesin pencarian penuh dengan pertanyaan: “Epy Kusnandar meninggal?”, “penyebab meninggalnya Kang Mus”, hingga “kabar duka Preman Pensiun”.

Masyarakat ingin tahu, karena tokoh yang pergi bukan sekadar aktor. Ia pernah menjadi bagian dari ruang tamu jutaan keluarga Indonesia—setiap malam, setiap episode.

Abenk Marco: Duka yang Mengalir Lebih Dulu

Aktor Abenk Marco, rekan seperjalanannya di Preman Pensiun, adalah salah satu yang pertama kali menyampaikan kabar itu. Sederhana, tanpa banyak kata:
“Rest In Peace Epy Kusnandar. Kang Mus wafat hari Rabu 3 Desember 2025 pukul 14.24.”

Ungkapan itu langsung dirayapi ribuan komentar. Unggahan itu menjadi salah satu pintu pertama yang membuat publik tersadar bahwa sosok yang mereka kenal melalui layar telah benar-benar tiada.

PARFI: Dunia Perfilman Indonesia Kehilangan Aktor Terbaiknya

Ketua PARFI, Evry Joe, juga mengirimkan pernyataan resmi. Kalimatnya lugas namun berat:

“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Dunia perfilman Indonesia kembali dilanda duka, yaitu telah meninggalnya Kang Epy Kusnandar, seorang aktor kenamaan.”

Di kalangan aktor, Epy bukan sekadar senior. Ia dikenal membimbing pemain muda, menyemangati kru yang sering luput dari sorotan, dan tak pernah lupa menyapa siapa pun di lokasi syuting.

Dari Teater ke Layar Televisi: Jejak Panjang Epy Kusnandar

Epy bukan aktor yang jatuh dari langit dan tiba-tiba populer. Ia ditempa di panggung teater sejak 1990-an—tempat yang keras, tempat yang menuntut kedisiplinan lebih dari sekadar menghafal naskah.

Ia bermain di sinetron, film layar lebar, dan tak jarang menjadi mentor. Namun perannya sebagai Kang Mus adalah tonggak yang membuat namanya menetap di ingatan publik. Sosok preman yang sedang belajar meninggalkan kekerasan, yang pelan-pelan berubah, yang tetap punya hati—itulah yang menempatkan Epy di ruang batin banyak penontonnya.

Media Sosial Dipenuhi Tagar Duka

Tak lama setelah kabar itu tersebar, tagar-tagar ini menguasai lini masa:

#EpyKusnandar #KangMus #PremanPensiun #DukaPerfilmanIndonesia

Ribuan warganet mengirim kenangan dan potongan dialog favorit. Banyak yang menulis bahwa mereka kehilangan sosok yang membuat mereka percaya bahwa orang keras pun bisa lembut, bahwa perubahan selalu mungkin.

Pemakaman di Jeruk Purut: Perpisahan yang Tenang

Pagi ini, cuaca di Jeruk Purut agak teduh. Sejumlah rekan aktor datang bergantian. Ada yang membawa bunga, ada yang membawa kenangan, ada yang hanya membawa duka.

Prosesi berlangsung cepat, sederhana, dan tanpa banyak kamera yang ikut mengintip. Hanya satu kalimat yang berulang dari berbagai mulut:

“Selamat jalan, Kang Mus.”

Warisan yang Tidak Selesai Meski Hidup Telah Usai

Epy Kusnandar pergi meninggalkan ratusan karya. Namun warisan terbesarnya bukan pada jumlah. Ia meninggalkan sikap: rendah hati, bersahaja, dan selalu bekerja keras meski popularitas sudah lama memanggilnya dari kejauhan.

Seni peran Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbaiknya. Tetapi seperti yang sering ia sampaikan dalam berbagai wawancara:
“Aktor itu akan mati, tapi perannya bisa hidup lebih lama dari dirinya.”

Hari ini, kata-kata itu terasa benar. Kang Mus telah pergi, tetapi lakon yang ia mainkan akan terus menetap di ruang-ruang ingatan penontonnya.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id