MASIH TENTANG LUHUT: Wajah Usang di Pemerintah Presiden Prabowo

Ilustrasi by kopipahit.id

Penulis: Ahmad Basri (K3PP Tubaba)
Editor : kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Problem terbesar menghambat laju roda pemerintahan Presiden Prabowo hari ini bukan soal ekonomi atau hukum semata. Masih bercokolnya wajah “usang” yang bernama Luhut Binsar Panjaitan (LBP) atau yang lebih dikenal panggilan opung Luhut.

Semasa pemerintahan Presiden Jokowi, Luhut mendominasi hampir seluruh sendi kekuasaan. Bukan sekadar pembantu presiden tetapi seolah-olah melebihi presiden.

Segudang jabatan melekat di punggungnya tanpa ruang untuk dikritisi. Sebuah fenomena politik hukum yang abnormal. Abuse of Power.

Seolah negara kekurangan orang. Tidak ada lagi sosok yang “mampu” selain dirinya. Padahal negara tidak pernah kekurangan SDM yang mumpuni, berkualitas dan bermoral.

Luhut dikenal dengan gaya “ceplas-ceplos” sebuah karakter yang bagi sebagian orang dianggap lumrah biasa ala orang sumatera. Cara menanggapi kritik pun selalu dilawan dengan sinisme atau ancaman suara lantang.

Tipologi itu yang sangat melekat dalam diri Luhut. Kritik ditanggapi dengan kalimat yang justru menyingkap mentalitas kekuasaan merasa paling benar, paling mengerti, dan paling berhak menentukan arah perjalanan bangsa.

Sebagai pengingat beban politik, ekonomi, sosial, dan hukum yang kini harus dipikul pemerintahan Prabowo sesungguhnya merupakan warisan masa lalu, dan dalam banyak kasus “diduga” Luhut adalah aktor utamanya.

Ironisnya, orang yang menjadi bagian besar dari beban masa lalu itu justru masih duduk di kursi kekuasaan hari ini. Masih diberi jabatan dan wewenang. Sebuah anomali yang begitu telanjang.

Untuk apa pergantian pemerintahan bila pola kekuasaan tetap diisi tokoh yang seharusnya sudah selesai, usang, dan kadaluarsa?

Presiden Prabowo punya peluang besar untuk memberangus dan membersihkan warisan lama. Namun selama wajah usang itu masih terus dipertahankan maka roda pemerintahan akan terus terseok-seok.