
KOPIPAHIT, Apa artinya swasembada?
Pertanyaan sederhana yang sering hilang di balik gegap-gempita konferensi pers. Swasembada seharusnya tidak hanya bicara tentang produksi dan grafik yang menanjak, tetapi juga tentang harga yang bisa dijangkau, pasokan yang stabil, dan petani yang bisa bernafas tanpa terbebani ongkos yang kian mahal.
Pemerintah sendiri sedang berusaha menuju ke sana. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada beras pada 31 Desember 2025. Target besar ini didukung data BPS: produksi mencapai 33,1 juta ton per 9 Oktober 2025, dan diproyeksikan tembus 34 juta ton pada akhir tahun. Kementan juga mencatat kenaikan produksi 13,3 persen dibanding tahun lalu (Kontan). Di atas kertas, ada pergerakan nyata.
Stok nasional pun diperkuat. Bulog memegang 3,8 juta ton Cadangan Beras Pemerintah per 18 Mei 2025, mendekati batas aman 4 juta ton. Kenaikan HPP gabah ke Rp6.500/kg mendorong NTP ke 124,36, sebuah sinyal bahwa pemerintah memang sedang memperbaiki pondasi produksi.
Namun, sebagaimana dicatat Reuters, harga beras di pasar tetap tinggi. Gudang boleh penuh, tapi pasar belum tentu lega. Penyerapan gabah oleh Bulog tidak otomatis membuat harga turun, sebab rantai distribusi pangan kita memang sudah lama ruwet dan sulit dibenahi dalam semalam.
Di lapangan, petani menghadapi dua persoalan yang lebih membumi: biaya produksi yang tetap tinggi dan pengendalian hama yang kian sulit diprediksi.
Meskipun harga pupuk sudah turun, biaya produksi tetap saja tinggi. Ongkos tenaga kerja meningkat, sewa lahan tidak ikut turun, pestisida makin mahal, dan perawatan tanaman menuntut biaya yang tidak kecil.
Di saat yang sama, serangan hama—dari wereng hingga penggerek batang—datang lebih agresif karena pola cuaca yang berubah dan musim tanam yang makin tidak menentu.
Dengan kondisi seperti itu, kenaikan produksi nasional tidak serta-merta mengubah keseharian petani. Mereka tetap berjibaku dengan biaya, risiko, dan cuaca—tiga hal yang jarang terlihat dalam grafik presentasi.
Karena itu, pertanyaannya kembali ke makna awal:
bisakah swasembada dirasakan di piring rakyat dan di kehidupan petani, bukan hanya di laporan resmi?
Swasembada idealnya berarti: harga stabil, pasokan aman, petani kuat meski biaya tinggi, dan hama tidak menjadikan panen sebagai pertaruhan.
Sambil ngopi, kritik dalam tulisan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan: target besar membutuhkan perhatian pada detail kecil yang justru menopangnya—biaya produksi yang realistis dan pengendalian hama yang efektif.
Pada akhirnya, swasembada bukan hanya soal angka yang berdiri tegak, tetapi tentang apakah kehidupan petani ikut berdiri bersama. Kita membutuhkan lebih dari sekadar optimisme negara; kita membutuhkan kenyataan yang berpihak pada mereka yang menanam. Sebab pahit kopi masih bisa diterima, tetapi pahit hidup—itu lain cerita.
Reporter: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id
