Oleh : Gunawan Handoko
Pemerhati masalah Sosial dan Lingkungan, tinggal di Kota Bandar Lampung

KOPIPAHIT.ID – Informasi yang disampaikan diberbagai media sosial telah cukup mewakili, betapa porak-porandanya beberapa wilayah di pulau Sumatera saat ini, yakni provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, tiga provinsi yang letaknya saling bergandengan.
Banjir besar disertai tanah longsor tiba-tiba saja datang dan menerjang apa saja yang dilewatinya, sehingga menyebabkan banyaknya korban jiwa meninggal dunia dan kerusakan parah pada infrastruktur, termasuk jalan nasional dan jembatan.
Upaya penyelamatan dan evakuasi masih terus dilakukan, meskipun akses ke beberapa wilayah masih sulit ditembus akibat kerusakan infrastruktur dan cuaca buruk serta kondisi yang gelap akibat terputusnya jaringan listrik dan putusnya komunikasi.
Dalam kegalauan hati, mereka yang terdampak bencana hanya bisa saling pandang penuh tanya, siapa diantara mereka yang berlumur dosa, apa salah mereka dan mengapa korban yang paling banyak justru di derita masyarakat yang masuk kategori sebagai yang lemah dan miskin.

Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, pasrah dan tidak pernah menipu apalagi korupsi. Perasaan tersebut sangat wajar, dan bukan berarti mereka tidak meyakini bahwa semua ini terjadi karena musibah yang diberikan Tuhan kepada umat manusia.
Kita tidak perlu memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana ini sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya. Yang pasti, bencana ini terjadi semata-mata atas kehendak Tuhan, dan Ia pasti telah mempunyai rencana lain di balik itu.
Ini musibah kita bersama yang harus kita rasakan dan pikul secara bersama pula. Dalam suasana seperti ini, sikap saling menyalahkan bukanlah hal yang bijak, justru akan memperbesar masalah.
Dalam kondisi seperti ini, selain bantuan makanan dan kesehatan, mereka sangat membutuhkan ketenangan dan kasih sayang, terlebih terhadap anak-anak dan para manula.

Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan pendampingan psikologi dalam recovery mental agar kembali bangkit dari rasa putus asa. Perlu ditumbuhkan keyakinan melalui filsafat Cakra Manggilingan’, yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada di bawah dan kadang di atas.
Ketika terkena musibah, mereka menyadari bahwa posisi roda sedang berada dibawah yang suatu saat pasti akan berputar kembali ke posisi atas. Paham ini terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar. Maka sepahit apapun penderitaan yang menimpa diri, selalu masih ada asa dalam menatap ke depan.
Disinilah rasa dilematis seorang manusia di mulai, siapapun akan merasa miris ketika menyaksikan jasad manusia tertimbun bangunan dan longsoran tanah, ribuan manusia yang kehilangan rumah dan dipastikan dalam beberapa hari ke depan harus tidur ditenda-tenda darurat, rumah-rumah ibadah dan bangunan sosial lainnya.
Perlu disadari bahwa bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat kali ini karena faktor alam, perubahan iklim atau kesalahan manusia yang tidak selalu terkait dengan moralitas.
Oleh karenanya, penting untuk fokus pada upaya pencegahan dan mitigasi bencana, serta membantu mereka yang terkena dampak bencana. Hal yang lebih penting saat ini adalah membangun rasa empati dan solidaritas di antara masyarakat secara bersama-sama dalam melewati masa-masa sulit dan membantu mereka yang terkena dampak bencana.
Rasa empati dan kepedulian kita dapat menjadi kekuatan besar dalam menghadapi bencana dan mempercepat proses pemulihan. Kita jadikan duka ini sebagai kesempatan untuk memperkuat tali persaudaraan dan membangun masyarakat yang lebih peduli dan tangguh.
Bencana besar yang terjadi kali ini perlu menjadi evaluasi total dan menyeluruh bagi Pemerintah, terhadap penyebab bencana dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mencegah terjadinya bencana di masa yang akan datang. Salah satunya adalah dengan menyelamatkan lingkungan hidup seperti hutan dan rawa, termasuk mengimplementasikan kebijakan yang efektif untuk mengurangi deforestasi, mengembalikan fungsi hutan, dan melindungi kawasan lindung.
Dengan demikian kita dapat mengurangi resiko bencana dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Banyaknya alih fungsi lahan, seperti hutan, lereng gunung dan perbukitan serta rawa menjadi kawasan permukiman dan industri, telah mengurangi kemampuan resapan air dan meningkatkan resiko banjir.
Hal ini karena lahan-lahan tersebut tidak lagi dapat menyerap air hujan dengan baik, sehingga air harus mengalir langsung ke sungai dan menyebabkan banjir. Maka perlu dilakukan perencanaan tata ruang yang lebih baik dan pengendalian alih fungsi lahan untuk mengurangi resiko banjir dan menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH), khususnya di wilayah perkotaan saat ini menjadi masalah sangat serius. Banyak RTH yang beralih fungsi menjadi area komersial atau permukiman, sehingga mengurangi kemampuan kota untuk menyerap air hujan, mengurangi polusi udara dan menyediakan habitat bagi keanekaragaman hayati.
Keserakahan manusia dan kurangnya penegakan hukum seringkali menjadi penyebab utama perubahan fungsi RTH. Oleh karena itu perlu ada upaya secara sungguh-sungguh dari pemerintah dan masyarakat untuk melindungi dan mempertahankan serta meningkatkan RTH di perkotaan. Merubah fungsi hutan dan rawa menjadi area hutan beton dan kaca dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah dan sangat mahal untuk memperbaikinya.
Hilangnya fungsi ekologis hutan dan rawa dapat memicu berbagai permasalahan lingkungan seperti banjir, polusi air dan hilangnya keanekaragaman hayati tadi. Mengembalikan fungsi ekologi hutan dan rawa memang membutuhkan biaya besar, namun biaya tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan dampak ekonomi dan sosial yang akan ditumbulkan jika kerusakan lingkungan terus berlanjut.

Maka menjadi penting untuk melakukan upaya pencegahan dan konservasi lingkungan sebelum terlambat. Maka, membangun kota dengan berwawasan lingkungan harus menjadi komitmen nyata, bukan hanya sekedar slogan. Ini berarti mengintegrasikan prinsip-prinsip lingkungan dalam setiap aspek perencanaan dan pembangunan kota, seperti mengembangkan RTH, mengurangi polusi, meningkatkan efisiensi energi dan mempromosikan transportasi ramah lingkungan.
Dengan demikian, kita dapat menciptakan sebuah kota yang bukan hanya berkelanjutan, tetapi juga sehat dan nyaman bagi warganya. Bencana alam yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam dan melakukan upaya mitigasi bencana bagi semua daerah.
Perlu diambil langkah-langkah preventif untuk mengurangi resiko bencana alam. Banyaknya korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah belum sepenuhnya siap dalam menghadapi bencana.
Lemahnya mitigasi bencana seperti sistem peringatan dini yang tidak evektif, kurangnya edukasi dan pelatihan serta infrastruktur yang tidak memadai, dapat memperparah dampak bencana. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana, serta investasi dalam infrastruktur yang lebih baik untuk mengurangi resiko bencana. Mari kita jadikan bencana ini untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga dan bersahabat dengan alam.
