
SURAKARTA – Keraton Kasunanan Surakarta akhirnya kembali memunculkan babak baru dalam serial panjang bertajuk Siapa Raja Sesungguhnya?
Sabtu (15/11/2025), Putra Mahkota KGPAA Puruboyo resmi mengikrarkan diri sebagai SISKS Pakubuwono XIV. Dan seperti setiap pengumuman raja baru di Solo: meriah, sakral, dan tentu saja diikuti sedikit—baiklah, cukup banyak—ketegangan.
Sosok yang ikut memberi warna pada babak terbaru ini adalah adik mendiang raja PB XIII, KGPH Benowo. Ditemui setelah prosesi Hajad Dalem Jumenengan Dalem Nata Binayangkare, Benowo memberikan dukungan yang cukup jelas—dengan gaya khas keraton yang penuh metafora, sejarah, dan ancaman mistis yang membuat bulu kuduk merinding tipis.
“Lebih tua bukan berarti jadi raja.”
Benowo lugas menjelaskan bahwa dinamika perebutan tahta bukan barang baru di Keraton Solo. Sejak zaman dulu, selalu ada gesekan, saling klaim, bahkan “raja kembar” seperti yang terjadi sekarang.
Menurutnya, urusan suksesi keraton tidak mengenal sistem anak sulung otomatis naik tahta. Tidak. Di Keraton Solo, urusan itu sepenuhnya hak raja sebelumnya. Dan sejarah membuktikan: PB X bukan yang tertua, PB XII—ayah Benowo—juga anak bungsu.
Jadi kalau hari ini ada yang bilang “saya lebih tua, harusnya saya raja”—yah, kata Benowo, itu tidak berlaku di keraton.
“Yang milih ya bapaknya. Kita nggak bisa bujuk-bujuk. Itu urusan dia dengan Tuhan,” ujarnya.
Dan kemudian muncul kartu truf: Watu Gilang.
Inilah bagian paling “keraton mistis cinematic universe” yang membuat banyak orang menahan napas.
Menurut Benowo, raja sejati Keraton Solo bisa dilihat dari satu hal: siapa yang berani bersumpah di atas Watu Gilang—batu keramat peninggalan Majapahit yang sejak ratusan tahun lalu menjadi saksi sumpah para raja.
Puruboyo, kata Benowo, sudah melakukannya. Langsung, resmi, dan tanpa ragu. Di atas batu itu.
Dan Benowo tidak main-main ketika menjelaskan taruhannya: “Kalau nggak kuat bisa sakit atau mati.”
Begitu saja, setenang orang sedang menjelaskan risiko makan sambal level 20.
Ia menantang siapa pun yang merasa dirinya raja—termasuk KGPH Hangabehi atau Mangkubumi yang sebelumnya juga mengklaim sebagai PB XIV—untuk bersumpah di tempat yang sama. Silakan. Monggo. Tapi risiko ditanggung sendiri.
Tidak di Sasana Sewaka.
Tidak di Sasana Handrawina.
Tidak di Dalem Ageng Probo Suyoso.
Hanya di satu tempat: Watu Gilang.
Dan sejak dulu, katanya, semua raja Keraton Solo disahkan di situ.
“Kalau mau, silakan. Tapi kalau ada apa-apa ya tanggung sendiri.” Begitu penutup Benowo—yang kalau diterjemahkan ke bahasa sehari-hari kurang lebih:
Silakan klaim raja kalau berani, tapi jangan salahkan siapa-siapa kalau kemudian jatuh sakit, kesurupan, atau ya… lebih parah.
Drama suksesi Keraton Solo sepertinya belum akan selesai dalam waktu dekat. Tapi untuk sementara, satu bab sudah dibuka: Puruboyo telah naik tahta sebagai PB XIV, mendapat restu sang paman, dan telah menjalani sumpah yang bahkan keluarga keraton sendiri bilang “tidak main-main”.
Sisanya?
Seperti dalam semua kisah keraton—yang mistisnya tidak pernah habis, intriknya tidak pernah padam—kita hanya bisa menunggu episode berikutnya.
Sambil menikmati kopi pahit, tentu saja. Karena seperti sumpah di Watu Gilang, ada hal-hal yang memang lebih enak dinikmati dengan kepala dingin dan sedikit getir. (Yoseph)
