Macan Tutul Jawa: Jejak Sang Predator di Pegunungan Lawu

Gambar ilustrasi oleh kopipahit.id

KOPIPAHIT.ID – Pegunungan Lawu kembali menegaskan dirinya sebagai ruang hidup bagi salah satu predator puncak yang paling misterius di Nusantara: Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas).

Rekaman kamera trap yang dipasang oleh Ailesh bekerja sama dengan Taman Hutan Raya (TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I bukan sekadar dokumentasi biasa. Ia adalah bukti hidup bahwa hutan kita masih mampu menampung makhluk yang oleh dunia internasional dinyatakan Endangered.

Dalam dunia konservasi, jejak ini jauh lebih berharga daripada laporan statistik atau grafik penurunan populasi. Ia adalah konfirmasi bahwa keseimbangan ekosistem—meski rapuh—masih ada.

Keberadaan Macan Tutul Jawa di puncak rantai makanan menandakan hutan Pegunungan Lawu memiliki daya dukung ekologis yang cukup. Predator puncak, seperti macan tutul, tidak akan bertahan jika rantai makanan di bawahnya runtuh.

Artinya, burung, mamalia kecil, dan keanekaragaman flora serta fauna lain juga berada dalam kondisi yang relatif stabil. Hutan yang mampu menopang sang predator besar adalah hutan yang sehat; hutan yang sehat adalah hutan yang selamat dari eksploitasi besar-besaran, penebangan liar, dan perburuan.

Namun, keberhasilan ini bukan hadiah alam semesta. Rekaman yang viral di akun TikTok resmi @Tahura KGPAA Mangkunagoro I, mendapat respons hangat dari warganet seperti @DaengFajar yang menulis, “Keren, semoga hutan rimba Gunung Lawu tetap lestari,” hanyalah puncak dari upaya panjang pengelola kawasan.

Kamera trap yang dipasang adalah alat sederhana namun strategis: ia menjadi mata yang diam-diam mengawasi, sekaligus pengingat bagi manusia bahwa alam tetap menuntut tanggung jawab.

Tidak cukup hanya menatap layar ponsel dan memberi komentar, masyarakat harus terlibat langsung dalam perlindungan habitat, dari menolak perburuan liar hingga menjaga kelestarian hutan.

Kita bisa membaca Macan Tutul Jawa sebagai simbol: ia adalah saksi dan penanda atas kekeliruan serta keberhasilan manusia. Sebagai spesies yang terancam punah, jejaknya mengingatkan kita akan besarnya kerugian jika habitat hilang dan keserakahan manusia tak terkendali.

Tetapi ia juga menunjukkan bahwa ketika ada perhatian, kolaborasi, dan kesadaran, alam bisa bertahan. Sang predator menjadi penanda kolektif, sebuah ingatan bahwa negara memiliki kewajiban untuk melindungi bukan hanya manusia, tapi juga makhluk lain yang menjadi bagian dari bumi yang sama.

Maka, temuan ini bukan sekadar berita viral. Ia adalah panggilan untuk bergerak: bagi pengelola hutan, komunitas, dan masyarakat luas. Jagalah hutan, karena menjaga Macan Tutul Jawa berarti menjaga keseimbangan hidup itu sendiri.

Bukan sekadar soal kelestarian spesies, tetapi tentang harga diri kita sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Jika hutan Lawu hilang, maka bukan hanya macan tutul yang pergi; hilang pula ingatan kolektif akan kejahatan dan kelalaian manusia terhadap alam.

Dan di situlah, mungkin, kita bisa menilai seberapa besar kemampuan kita untuk belajar dari sejarah, serta berani bertindak demi masa depan yang masih mungkin diselamatkan.

Ditulis oleh: Heriyosh
Editor: Redaksi Kopipahit.id